Kamis, 29 Juli 2027
Rumah Singgah
Setiap orang butuh satu rumah yang bisa didatangi tanpa mengetuk lama-lama. Rumah tempat kita boleh datang lelah, makan tanpa sungkan, dan tertidur di kursi tanpa dianggap tidak sopan.
Bacaan pertama hari ini bercerita tentang Allah yang berkenan tinggal: Kemah Suci selesai didirikan, lalu awan menutupinya dan kemuliaan TUHAN memenuhinya. Allah yang mahabesar memilih berkemah di tengah umat yang sedang berjalan.
Hari ini Gereja mengenang Santa Marta, Santa Maria, dan Santo Lazarus. Berabad-abad setelah Kemah Suci, Allah yang sama, dalam diri Yesus, kembali mencari tempat tinggal. Dan Ia menemukannya di Betania, di rumah tiga bersaudara itu. Di sana Ia disibuki Marta, didengarkan Maria, dan menangis di kubur Lazarus sahabat-Nya. Betania adalah kemah pertemuan versi rumah tangga: ada dapur yang ribut, ada ruang duduk yang hening, ada persahabatan yang jujur.
Yesus zaman ini masih mencari rumah singgah. Bukan bangunannya yang Ia cari, melainkan hati yang menyediakan diri: sibuk melayani seperti Marta, duduk mendengarkan seperti Maria, setia dalam persahabatan seperti Lazarus. Ketiganya perlu, ketiganya saling melengkapi.
Pertanyaannya sederhana: kalau Yesus lewat hari ini, apakah rumah kita, dan hati kita, termasuk tempat yang enak untuk disinggahi?
Tuhan Yesus, singgahlah dan tinggallah di rumahku. Jadikan hatiku Betania-Mu. Amin.