Jumat, 23 Juli 2027
Aturan Rumah
Setiap rumah punya aturan tak tertulis. Pulang sebelum magrib. Kalau makan dihabiskan. Salim kepada yang tua. Waktu kecil, aturan itu terasa mengekang. Setelah dewasa, kita paham: aturan itu cara orang tua berkata sayang.
Hari ini kita mendengar Sepuluh Firman. Sebelum satu pun larangan diucapkan, Allah memperkenalkan diri lebih dulu: Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Urutan ini penting sekali. Pembebasan dulu, baru perintah. Kasih dulu, baru aturan.
Sepuluh Firman bukan syarat untuk diselamatkan; Israel sudah diselamatkan lebih dulu di laut. Firman-firman itu adalah aturan rumah bagi orang yang sudah merdeka, pagar supaya mereka tidak berjalan pulang ke arah perbudakan: perbudakan pada berhala, pada kerja tanpa henti, pada iri terhadap milik sesama.
Maka keliru kalau kita membaca daftar jangan itu dengan wajah cemberut, seperti anak yang merasa dikekang. Bacalah dengan telinga anak yang dikasihi. Di balik setiap jangan ada suara yang sama: Aku sudah membebaskanmu, jangan kembali ke penjara.
Perintah mana yang paling sering kita langgar? Mungkin di situlah letak perbudakan kita yang belum selesai.
Tuhan, Engkau membebaskan aku sebelum memerintah aku. Buatlah aku menaati-Mu karena kasih, bukan karena takut. Amin.