Kamis, 22 Juli 2027
Dipanggil Nama
Suara ibu memanggil nama kita punya daya yang aneh. Di pasar yang riuh, di antara ratusan suara, satu panggilan nama dari orang yang mengasihi cukup untuk membuat kita menoleh. Nama kita di mulut orang yang tepat memang terdengar berbeda.
Hari ini Gereja merayakan Santa Maria Magdalena. Pagi-pagi benar, ketika hari masih gelap, ia sudah di kubur Yesus. Ia bertahan di sana sambil menangis ketika yang lain pulang. Ia bahkan sempat mengira Yesus penunggu taman. Matanya melihat, tetapi belum mengenali.
Lalu satu kata mengubah segalanya: Maria. Bukan khotbah, bukan penjelasan panjang tentang kebangkitan. Hanya namanya, disebut oleh suara yang dikenalnya. Seketika ia berpaling: Rabuni, Guru!
Kidung Agung dalam bacaan pertama melukiskan pencarian semacam itu: kucari jantung hatiku, kucari tetapi tak kutemui dia. Pencarian yang gigih memang penting. Tetapi perjumpaan terjadi bukan saat kita berhasil menemukan, melainkan saat kita mendengar diri kita dipanggil.
Maria Magdalena lalu diutus mewartakan kebangkitan kepada para rasul; karena itu ia digelari rasul para rasul. Semua berawal dari satu nama yang disebut dengan kasih.
Hari ini, dalam hening, dengarkanlah. Ia juga menyebut nama kita.
Yesus, panggillah namaku, supaya tangisku berpaling menjadi warta sukacita. Amin.