‹ Semua renungan

Rabu, 21 Juli 2027

Jatah Sehari

Nasi tidak dirancang untuk disimpan lama. Dimasak pagi, basi lusa. Ibu-ibu tahu itu, maka dapur bekerja dengan irama harian: belanja secukupnya, masak secukupnya, besok mulai lagi.

Kemarin kita mendengar Israel bernyanyi di tepi laut merayakan pembebasan. Hari ini, belum genap dua bulan keluar dari Mesir, nyanyian itu berganti sungut-sungut: ah, kalau kami mati tadinya di Mesir, ketika duduk menghadapi kuali berisi daging. Perut lapar memang cepat mengedit kenangan; perbudakan pun tampak enak asal kenyang.

Allah menjawab dengan roti dari langit. Tetapi ada aturannya: pungutlah tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari. Tidak boleh ditimbun. Setiap pagi harus keluar lagi, memungut lagi, percaya lagi.

Di situ pelajarannya. Allah bisa saja mengirim gudang penuh roti sekali kirim. Ia memilih jatah harian, sebab yang mau dilatih bukan perut, melainkan kepercayaan. Bukankah Yesus mengajarkan doa dengan takaran yang sama: berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.

Kecemasan kita biasanya soal lusa, tahun depan, hari tua. Manna mengajak kita kembali ke ukuran Allah: hari ini. Rahmat memang tidak dijual grosiran; ia diberikan segar setiap pagi.

Bapa, berilah aku rezeki hari ini, dan hati yang percaya untuk besok. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →