Selasa, 20 Juli 2027
Angin Semalaman
Kemarin kita meninggalkan Israel dalam keadaan terjepit di tepi laut, dengan satu perintah aneh: berangkat. Hari ini kita menyaksikan jalannya terbuka. Laut terbelah, dan bangsa itu berjalan di tanah kering di antara dua tembok air.
Tetapi bacalah pelan-pelan cara Allah membelah laut itu: semalam-malaman TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras. Semalam-malaman. Mukjizat itu tidak terjadi sekali kedip. Ia memakai angin, dan memakai waktu.
Kita sering membayangkan pertolongan Tuhan seperti sulap: sekali ucap, beres. Kitab Keluaran memperlihatkan yang lain. Allah bisa saja bekerja seketika, tetapi malam itu Ia memilih bekerja sepanjang malam, lewat sesuatu yang sehari-hari seperti angin. Barangkali sementara Israel gemetar menunggu pagi, pertolongan itu justru sedang berlangsung, berembus keras di kegelapan.
Jangan-jangan begitu pula malam-malam kita. Doa yang rasanya belum dijawab, persoalan yang rasanya diam di tempat, anak yang belum berubah. Padahal ada angin yang sedang bekerja semalaman, menguakkan air sedikit demi sedikit, di bagian yang belum kelihatan oleh mata kita.
Pagi harinya Israel bernyanyi. Nyanyian itu hanya bisa lahir dari orang yang pernah menunggu semalaman.
Tuhan, ketika malamku panjang, ingatkan aku bahwa angin-Mu sedang bekerja. Amin.