Minggu, 18 Juli 2027
Perintah Beristirahat
Kita hidup di zaman yang memuja sibuk. Ditanya apa kabar, jawaban paling membanggakan bukan sehat, melainkan sibuk sekali. Jadwal penuh dianggap bukti harga diri. Lelah dipajang seperti piala. Istirahat malah harus dibela-bela dengan rasa bersalah.
Minggu lalu kita mendengar kedua belas murid diutus berdua-dua. Minggu ini mereka kembali dengan cerita seabrek: setan yang diusir, orang sakit yang dipulihkan. Laporan keberhasilan seperti itu biasanya disusul perintah menambah target. Yesus justru memberi perintah yang jarang kita anggap perintah: marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika. Perhatikanlah, ini bukan saran, melainkan ajakan yang keluar dari mulut Sang Guru sendiri.
Markus mencatat alasannya dengan jenaka: begitu banyak orang datang dan pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat. Yesus melihat murid-murid-Nya, dan yang dilihat-Nya bukan hanya hasil kerja, melainkan wajah yang lelah. Bagi-Nya, murid bukan mesin pewartaan. Istirahat bukan bonus, melainkan bagian dari panggilan.
Tetapi kisah ini tidak berhenti manis. Rencana menepi itu bocor. Orang banyak mendahului mereka lewat jalan darat. Dan di sinilah kita melihat hati Yesus: turun dari perahu, melihat kerumunan itu, Ia tergerak oleh belas kasihan, sebab mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Istirahat-Nya rela dikorbankan, bukan karena istirahat tidak penting, melainkan karena belas kasihan lebih penting lagi.
Bacaan pertama memberi latar yang keras. Lewat Yeremia, Allah mengecam para gembala yang membiarkan domba-domba-Nya hilang dan terserak, lalu berjanji: Aku sendiri akan mengumpulkan sisa-sisa kambing domba-Ku. Dalam Yesus, janji itu ditepati. Gembala sejati akhirnya datang, dan yang pertama diberikan-Nya kepada domba yang terlantar bukan program, melainkan perhatian: Ia mulai mengajar mereka banyak hal.
Dari Injil ini kita belajar dua gerak yang kelihatannya bertolak belakang, padahal satu tarikan napas. Menepi dan berbelas kasih. Orang yang tidak pernah menepi akan kehabisan belas kasih; sumur yang terus ditimba tanpa diisi lama-lama kering, dan yang keluar tinggal lumpur kejengkelan. Sebaliknya, orang yang menepi terus-menerus tanpa mau diganggu sedang beristirahat dari panggilannya, bukan untuk panggilannya. Keduanya perlu dijaga bergantian, seperti tarikan dan embusan napas.
Maka periksalah pekan kita. Kapan terakhir kita sungguh menepi bersama Tuhan, bukan sekadar rebahan sambil menggulir layar? Dan kapan terakhir istirahat kita rela terganggu demi orang yang membutuhkan?
Tuhan Yesus, Gembala yang baik, ajarilah aku menepi bersama-Mu, dan buatlah hatiku tetap lunak ketika belas kasihan memanggil. Amin.