‹ Semua renungan

Sabtu, 17 Juli 2027

Buluh Patah

Di rumah berlampu teplok zaman dulu, sumbu yang pudar nyalanya biasanya langsung digunting. Buluh bambu yang retak dibuang ke tungku. Barang setengah rusak tidak punya tempat; menyimpannya dianggap membuang tempat.

Kemarin orang Farisi kalah berdebat soal Sabat. Hari ini mereka naik tingkat: bersekongkol untuk membunuh Yesus. Menghadapi ancaman itu, Yesus tidak menggalang massa dan tidak berteriak. Ia menyingkir, lalu diam-diam menyembuhkan semua orang sakit yang mengikuti-Nya.

Matius melihat di situ genapnya nubuat Yesaya tentang Hamba Allah: Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya.

Dunia menilai barang dan orang dengan satu pertanyaan: masih berfungsi atau tidak. Yesus memakai pertanyaan lain: masih bisa dipulihkan atau tidak. Dan jawaban-Nya selalu: masih. Nyala sekecil apa pun ditiup-Nya pelan sampai hidup lagi. Batang serapuh apa pun dibebat-Nya sampai tegak.

Barangkali kita sedang merasa menjadi buluh yang patah terkulai: gagal, lelah, tinggal sisa. Jangan buru-buru memutuskan diri sendiri. Yang setengah rusak, di tangan-Nya, bukan calon sampah melainkan calon kesaksian.

Tuhan Yesus, jangan padamkan nyalaku yang tinggal sisa. Bebatlah aku sampai tegak kembali. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →