‹ Semua renungan

Jumat, 16 Juli 2027

Pinggang Berikat

Ada makan yang santai, ada makan yang tegang. Makan pesta bisa berjam-jam. Tetapi makan menjelang keberangkatan, saat bus hampir datang, dilakukan sambil berdiri, sepiring berdua, mata melirik jam.

Malam Paskah pertama adalah makan jenis kedua. Allah memerintahkan Israel makan anak domba dengan cara khusus: pinggang berikat, kasut di kaki, tongkat di tangan, buru-burulah kamu memakannya. Itulah Paskah bagi TUHAN. Kata Paskah berasal dari bahasa Ibrani pesakh, artinya melewati: malam itu tulah melewati rumah-rumah yang ambang pintunya ditandai darah anak domba.

Makan buru-buru itu mengajarkan satu sikap: jangan kerasan dalam perbudakan. Orang yang hendak dibebaskan harus siap berangkat, tidak berlambat-lambat, tidak menoleh pada kuali daging Mesir.

Kemarin Yesus menyebut kuk-Nya enak dan beban-Nya ringan. Hari ini kita melihat betapa ringan aturan di tangan-Nya: murid-murid yang lapar memetik bulir gandum pada hari Sabat, dan Ia membela mereka. Yang Kukehendaki ialah belas kasihan, bukan persembahan.

Rupanya Allah lebih peduli pada orang yang berjalan bersama-Nya daripada pada tata cara yang rapi. Pertanyaannya untuk kita: masihkah kita berjalan, atau sudah terlalu kerasan?

Tuhan, ikatlah pinggangku. Jangan biarkan aku kerasan dalam perbudakanku yang nyaman. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →