Selasa, 13 Juli 2027
Peti Pandan
Kemarin kita mendengar perintah Firaun yang kejam: semua bayi laki-laki Ibrani harus dilemparkan ke sungai Nil. Hari ini seorang ibu benar-benar menaruh bayinya di Nil. Tetapi bukan melemparkannya. Ia menyiapkan peti pandan, memakalnya dengan ter agar tidak bocor, lalu meletakkan bayinya di antara teberau.
Perhatikan: sungai yang dirancang menjadi kuburan diubah menjadi jalan keselamatan. Dan alat-alatnya sederhana sekali. Anyaman pandan. Sedikit ter. Seorang kakak yang berjaga dari jauh. Rasa iba seorang puteri Firaun. Dari tangan-tangan perempuan yang tak tercatat namanya di istana, Allah menyiapkan pembebas Israel.
Firaun bekerja dengan dekrit dan pasukan. Allah bekerja dengan keranjang dan air mata. Kejahatan tampil besar dan bersuara keras; penyelamatan sering datang kecil, senyap, dan dianyam pelan-pelan seperti peti pandan itu.
Kita pun kadang hanya bisa berbuat sekecil itu: menganyam yang bisa dianyam, menjaga dari kejauhan, menampung yang terbuang. Terasa tidak sebanding dengan besarnya persoalan zaman. Tetapi dalam tangan Allah, peti pandan bisa mengalahkan istana.
Apa peti pandan kecil yang bisa kita anyam hari ini? Sepiring makanan? Satu kunjungan? Satu nama dalam doa?
Tuhan, pakailah tanganku yang kecil ini untuk pekerjaan penyelamatan-Mu yang besar. Amin.