‹ Semua renungan

Minggu, 11 Juli 2027

Aku Ini Bukan Nabi

Bacaan I Amos 7:12-15 Mazmur Mazmur 85:9-14 Injil Markus 6:7-13

Di banyak lingkungan, ceritanya mirip. Ketua lingkungan terpilih justru orang yang paling gigih menolak: saya ini apa, Pak, baca doa saja masih grogi. Yang merasa pantas biasanya tidak dipilih. Yang dipilih hampir selalu merasa salah alamat.

Amos mengalami salah alamat semacam itu. Ketika imam Amazia mengusirnya dari Betel, ia tidak membela diri dengan gelar. Jawabannya polos: aku ini bukan nabi, dan tidak termasuk golongan nabi. Aku peternak dan pemungut buah ara hutan. Tetapi TUHAN mengambil aku dari pekerjaan menggiring kambing domba. Titik. Seluruh kewibawaan Amos berdiri di atas satu hal saja: bukan siapa dia, melainkan siapa yang mengutusnya.

Injil hari ini memperlihatkan pola yang sama. Minggu lalu kita mendengar Yesus ditolak di kampung-Nya sendiri, sampai Ia heran atas ketidakpercayaan mereka. Anehnya, sesudah ditolak Ia justru memperluas pewartaan: dua belas murid diutus berdua-dua. Bekalnya nyaris nol: tongkat, alas kaki, satu baju. Roti jangan, uang jangan. Seolah Yesus sengaja memangkas semua yang bisa membuat mereka percaya diri, supaya yang tersisa hanya percaya.

Di sinilah kita sering keliru membaca panggilan. Kita mengira Tuhan mencari orang yang sudah lengkap: ilmunya cukup, suaranya bagus, hidupnya beres. Lalu kita menunda-nunda dengan sopan: nanti kalau anak-anak sudah besar, nanti kalau iman saya sudah kuat. Padahal dari Amos sampai kedua belas murid, urutannya selalu terbalik. Bukan orang yang siap lalu diutus, melainkan orang yang diutus lalu disiapkan di jalan.

Bacaan kedua memberi dasar yang lebih dalam lagi. Paulus berkata kepada jemaat Efesus bahwa di dalam Kristus, Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan. Sebelum kita bisa apa-apa. Sebelum kita punya apa-apa. Pilihan Allah mendahului prestasi kita, seperti kasih orang tua mendahului kepandaian anaknya. Maka rasa tidak pantas itu boleh saja tinggal, asal tidak diberi kursi kemudi.

Panggilan pun tidak selalu berarti mimbar. Ada yang dipanggil lewat dapur umum, lewat kunjungan orang sakit, lewat kesabaran mengajari anak berdoa. Ladangnya berbeda-beda, polanya satu: Tuhan mengambil orang dari pekerjaannya sehari-hari, seperti Amos diambil dari belakang kawanan domba.

Pekan ini, bila ada tugas kecil yang datang mengetuk, jangan buru-buru menjawab: saya bukan siapa-siapa. Amos juga bukan. Justru itu syaratnya.

Tuhan, Engkau memilihku sebelum aku bisa apa-apa. Ambillah aku dari kesibukanku, dan utuslah aku dengan bekal percaya. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →