‹ Semua renungan

Minggu, 4 Juli 2027

Terlalu Kenal

Ada hukum aneh dalam keluarga: yang paling dekat paling susah percaya. Seorang anak boleh jadi dokter yang dihormati satu kota, tetapi di rumah, ibunya tetap lebih percaya obat warung. Kita mendengarkan penceramah dari jauh dengan takzim, sambil menguap mendengar nasihat adik sendiri.

Minggu lalu kita mendengar Yesus membangkitkan anak Yairus, dan orang-orang takjub. Minggu ini Ia pulang kampung ke Nazaret, dan takjub itu berubah masam. Orang sekampung mengakui hikmat-Nya, mengakui mujizat-Nya, lalu justru tersandung: bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria? Mereka terlalu kenal. Mereka tahu rumah-Nya, tahu masa kecil-Nya, tahu tarif kursi buatan-Nya. Dan pengetahuan itu menjadi tembok. Injil mencatat kalimat yang menyesakkan: Ia tidak dapat mengadakan satu mujizat pun di sana.

Bukan karena kuasa-Nya kurang. Tetapi karena hati yang merasa sudah tahu tidak menyediakan ruang. Bejana yang penuh tidak bisa diisi.

Bacaan pertama menunjukkan hal serupa. Yehezkiel diutus kepada bangsanya sendiri, dan justru di situ ia diperingatkan: mereka keras kepala dan tegar hati. Nabi paling sulit diterima oleh orang yang merasa paling mengenalnya.

Lalu di mana harapannya? Paulus memberi kuncinya dalam bacaan kedua. Ia bercerita tentang duri dalam dagingnya, kelemahan yang tiga kali ia mohon dicabut. Jawaban Tuhan mengejutkan: cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna. Kuasa Allah tidak mencari panggung yang megah. Ia mencari celah. Dan celah itu bernama kerendahan hati, kesadaran bahwa kita belum selesai mengenal.

Mungkin di sinilah kita perlu memeriksa diri. Kepada Yesus pun kita bisa bersikap seperti orang Nazaret. Sudah puluhan tahun Katolik. Bacaan Injil rasanya sudah hafal jalan ceritanya. Homili tinggal menebak arahnya. Kita terlalu kenal, atau tepatnya, merasa terlalu kenal. Padahal yang kita genggam baru kulitnya.

Orang Nazaret kecewa karena Yesus tidak sesuai bayangan mereka. Kita pun sering kecewa karena Tuhan tidak bekerja sesuai skenario kita. Jangan-jangan yang perlu dibongkar bukan cara kerja Tuhan, melainkan bayangan kita tentang Dia.

Pekan ini, cobalah membaca satu perikop yang sudah kita hafal, pelan-pelan, seolah baru pertama membacanya. Siapa tahu di kalimat yang itu-itu juga, ada wajah yang selama ini luput kita pandang.

Tuhan, ampunilah aku yang sering merasa sudah mengenal-Mu. Bongkarlah bayanganku tentang Engkau, dan biarlah kuasa-Mu bekerja dalam kelemahanku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →