Sabtu, 3 Juli 2027
Bekas Luka
Hampir setiap tubuh menyimpan bekas luka. Di lutut, bekas jatuh dari sepeda. Di jari, bekas pisau dapur. Anehnya, bekas luka jarang membuat kita malu. Ia justru jadi cerita yang diulang-ulang. Setiap bekas luka menyimpan riwayat: pernah jatuh, pernah sembuh.
Hari ini Gereja merayakan Santo Tomas, rasul yang terlanjur dicap peragu. Padahal permintaannya jujur sekali: ia ingin melihat bekas paku itu. Ia tidak minta kemuliaan. Ia minta luka.
Dan Yesus yang bangkit ternyata datang membawa bekas luka-Nya. Kebangkitan tidak menghapus bekas paku di tangan dan tombak di lambung. Tubuh mulia itu tetap tubuh yang pernah terluka. Justru dari luka itulah Tomas sampai pada pengakuan iman terindah dalam Injil: Ya Tuhanku dan Allahku.
Ini kabar baik untuk kita yang menyimpan luka. Iman tidak menuntut kita pura-pura utuh. Kadang justru lewat luka yang berani ditunjukkan, orang lain menemukan Tuhan. Rumah tangga yang pernah retak lalu pulih sering lebih meneguhkan daripada seribu nasihat. Gereja pun tumbuh bukan dari orang-orang tanpa cacat, melainkan dari para saksi yang lukanya sudah dijamah Tuhan.
Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya. Itu kita. Percaya bukan karena tak pernah ragu, tetapi karena berani bertanya seperti Tomas.
Ya Tuhanku dan Allahku, sentuhlah lukaku dengan luka-Mu, supaya ragu berubah menjadi sembah. Amin.