Kamis, 17 Juni 2027
Doa Tanpa Basa-basi
Anak kecil tidak pernah membuka proposal saat minta makan. Ia tidak berpidato tentang sejarah kelaparannya, tidak menyusun kalimat indah. Ia cukup menarik ujung baju ibunya: Bu, lapar.
Yesus hari ini mengajarkan doa dengan gaya anak itu. Janganlah bertele-tele, sebab Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan sebelum kamu minta. Doa rupanya bukan siaran untuk meyakinkan Allah, bukan pula setoran kata-kata. Kalau Allah sudah tahu, untuk apa berdoa? Justru untuk ini: bukan supaya Allah berubah pikiran, melainkan supaya kita berubah hati.
Lalu Yesus memberikan Bapa Kami. Doa paling padat di dunia. Coba hitung: hanya beberapa puluh kata, tetapi memuat segalanya. Nama Bapa, Kerajaan-Nya, kehendak-Nya, baru kemudian rezeki, ampunan, dan perlindungan. Urutannya pun mendidik: urusan Allah dulu, urusan perut kemudian.
Satu-satunya bagian yang diberi catatan tambahan adalah soal mengampuni. Jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu akan mengampuni kamu juga. Rupanya inilah bagian yang paling sering kita ucapkan tanpa kita maksudkan.
Berapa kali kita mendoakan Bapa Kami seumur hidup? Ribuan. Pernahkah sekali saja kita berhenti lama di kata ampunilah?
Bapa, aku datang seperti anak kecil: tanpa pidato, hanya percaya. Ajarilah aku sungguh memaafkan seperti Engkau memaafkan aku. Amin.