Jumat, 11 Juni 2027
Harta dalam Kendil
Di pasar tradisional masih dijual kendil dan cobek tanah liat. Murah, mudah retak, gampang pecah kalau jatuh. Tidak ada orang menyimpan emas di dalam kendil. Emas disimpan di brankas.
Allah berpikir sebaliknya. Kemarin Paulus berbicara tentang terang Allah yang bercahaya di dalam hati kita. Hari ini ia meneruskan: harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat. Injil yang mulia dititipkan bukan kepada malaikat, melainkan kepada manusia yang rapuh. Ditindas namun tidak terjepit. Habis akal namun tidak putus asa. Dihempaskan namun tidak binasa. Justru lewat keretakan bejana itu, nyata bahwa kekuatannya berasal dari Allah, bukan dari kita.
Hari ini Gereja mengenang Santo Barnabas. Namanya sendiri sebuah program: anak penghiburan. Dialah yang berani menjamin Saulus, bekas penganiaya, di hadapan para rasul yang masih takut. Dialah yang mencarinya di Tarsus dan mengajaknya melayani. Tanpa bejana bernama Barnabas, mungkin kita tidak pernah mengenal Paulus.
Kita sering menunda melayani karena merasa belum layak, belum kuat, belum utuh. Padahal syaratnya memang bukan itu.
Retak di bagian mana pun hidup kita, masihkah kita mau dipakai membawa harta-Nya?
Tuhan, aku hanya kendil tanah liat. Isilah aku dengan harta-Mu, dan pakailah retakku untuk memancarkan terang-Mu. Amin.