Kamis, 10 Juni 2027
Berdamai Dulu, Baru Mezbah
Pemandangan ini tidak asing: satu keluarga berangkat ke gereja dalam keadaan perang dingin. Di rumah baru saja ada suara meninggi. Di perjalanan semua diam. Di gereja semua tampak khusyuk.
Yesus hari ini menyentuh persis titik itu. Jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan teringat saudaramu menyimpan sesuatu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu, pergilah berdamai dahulu, lalu kembalilah. Urutannya mengejutkan. Bukan ibadah dulu baru rukun, melainkan rukun dulu baru ibadah. Allah rupanya rela persembahan untuk-Nya tertunda demi sebuah permintaan maaf. Bagi-Nya, rukun dengan saudara adalah bagian dari ibadah itu sendiri.
Yesus bahkan menajamkan hukum jangan membunuh sampai ke akarnya. Kemarin Ia berkata datang untuk menggenapi Taurat; hari ini kita melihat caranya. Marah yang dipelihara dan kata-kata yang merendahkan sudah termasuk perkara pembunuhan. Sebab memang dari situlah semua bermula. Tidak ada orang membunuh tanpa lebih dulu menghina dalam hatinya.
Paulus dalam bacaan pertama berbicara tentang selubung yang menutupi hati. Bukankah dendam juga selubung? Ia membuat kita tidak bisa memandang wajah saudara, apalagi wajah Allah.
Kepada siapa kita perlu mampir dulu sebelum melangkah ke mezbah Minggu ini?
Tuhan, sebelum tanganku mengangkat persembahan, gerakkanlah kakiku menuju orang yang harus kuajak berdamai. Amin.