‹ Semua renungan

Selasa, 8 Juni 2027

Sejumput Garam

Perhatikan garam di dapur. Ia tidak pernah tampil di piring. Tidak ada orang memuji garam karena bentuknya bagus. Garam justru bekerja dengan menghilang. Larut, tak terlihat, tetapi seluruh masakan berubah karenanya. Dan bila ia tidak ada, satu sendok sayur langsung membocorkan rahasianya: hambar.

Kemarin kita mendengar sabda bahagia di atas bukit. Hari ini Yesus melanjutkan khotbah-Nya dengan dua kalimat yang berani: kamu adalah garam dunia, kamu adalah terang dunia. Bukan kamu harus menjadi. Kamu adalah. Identitas, bukan cita-cita. Begitu pula pelita: kecil saja, tetapi seisi rumah bergantung padanya.

Tetapi garam bisa menjadi tawar dan pelita bisa ditaruh di bawah gantang. Murid Kristus bisa hadir di mana-mana tanpa mengubah rasa apa-apa. Hadir di kantor, di kampung, di kumpulan keluarga, tetapi sama saja ada atau tidak ada.

Paulus dalam bacaan pertama memberi kuncinya: di dalam Kristus hanya ada ya. Janji Allah tidak pernah serentak ya dan tidak. Garam yang asin adalah hidup yang jelas: ya kepada kebenaran, tidak kepada yang jahat.

Kalau hari ini kita diangkat dari lingkungan kita, adakah yang merasa kehilangan rasa?

Tuhan, jadikan aku garam yang rela larut dan tetap asin, supaya dunia mengecap kebaikan-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →