Minggu, 6 Juni 2027
Di Manakah Engkau?
Semua anak pernah bermain petak umpet. Serunya justru di situ: bersembunyi, menahan napas, berharap tidak ditemukan. Tetapi coba ingat-ingat. Anak kecil yang terlalu lama tidak ditemukan akhirnya keluar sendiri. Tidak ditemukan itu ternyata tidak enak.
Bacaan pertama hari ini adalah petak umpet tertua dalam sejarah. Sesudah makan buah terlarang, manusia bersembunyi di antara pepohonan. Lalu terdengar pertanyaan pertama Allah kepada manusia dalam seluruh Kitab Suci: di manakah engkau?
Perhatikan baik-baik. Itu bukan pertanyaan polisi yang kehilangan jejak buronan. Allah tahu persis di mana Adam. Itu pertanyaan seorang bapa yang ingin anaknya keluar sendiri dari persembunyian. Dosa memang begitu kerjanya: membuat kita menjauh, menutupi diri, lalu saling menunjuk. Adam menyalahkan Hawa, Hawa menyalahkan ular. Tidak ada yang berani berkata: aku yang salah. Sampai hari ini pola itu tidak banyak berubah. Kita mahir menunjuk, gagap mengaku.
Tetapi di tengah kisah kejatuhan itu Allah menyelipkan janji. Keturunan perempuan akan meremukkan kepala ular. Gereja menyebut ayat ini kabar baik yang pertama. Sejak halaman-halaman awal, Allah sudah sibuk merencanakan jalan pulang bagi kita. Hukuman memang dijatuhkan, tetapi pintu tidak pernah dikunci.
Dalam Injil, Yesus yang datang menempuh jalan pulang itu justru disalahpahami. Keluarga-Nya menyangka Ia tidak waras. Ahli Taurat menuduh-Nya kerasukan Beelzebul. Minggu lalu kita mendengar orang Farisi mulai bersekongkol hendak membunuh-Nya. Orang yang datang mencari manusia yang bersembunyi malah dicurigai. Namun Yesus tidak mundur. Ia bahkan memperluas keluarga: barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku, dialah ibu-Ku.
Paulus, dalam sambungan suratnya dari Minggu lalu, memberi kita alasan untuk tidak tawar hati. Meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Kemah bumi ini bisa dibongkar, tetapi Allah menyediakan kediaman kekal. Tubuh menua, kekuatan menyusut, dan justru di situ karya Allah berjalan.
Maka pertanyaan Minggu ini kembali ke taman itu. Di manakah engkau? Di balik kesibukan yang mana kita bersembunyi? Di balik alasan apa, di balik layar yang mana, di balik senyum baik-baik saja yang mana?
Keluar dari persembunyian memang menakutkan. Tetapi yang memanggil kita bukan hakim yang menunggu dengan palu, melainkan Bapa yang menunggu dengan pelukan.
Tuhan, Engkau bertanya di manakah aku. Inilah aku, dengan segala yang kusembunyikan. Temukanlah aku, dan bawalah aku pulang. Amin.