Kamis, 27 Mei 2027
Mata yang Tak Pernah Kenyang
Orang yang baru pulih dari operasi katarak sering bercerita hal yang sama: dunia ternyata seterang ini. Daun kelihatan helainya, wajah cucu kelihatan jelas. Hal-hal yang dulu biasa mendadak menakjubkan. Yang berubah bukan dunianya, melainkan matanya.
Kemarin kita mendengar Yesus berkata bahwa Ia datang untuk melayani. Hari ini, dalam perjalanan yang sama menuju Yerusalem, Ia berhenti untuk seorang pengemis buta. Bartimeus duduk di pinggir jalan Yerikho. Ketika Yesus lewat, ia berseru dan tidak mau didiamkan: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" Ditanya Yesus apa yang ia kehendaki, jawabnya lurus: "Rabuni, supaya aku dapat melihat!" Dan ia melihat. Apa yang pertama dilihatnya? Wajah Yesus. Pantas saja ia langsung mengikuti Dia dalam perjalanan-Nya.
Sirakh dalam bacaan pertama adalah orang yang matanya sudah lama celik. Ia memandang matahari, laut, dan segala pekerjaan Tuhan, lalu menulis dengan takjub: "Betapa eloklah segala ciptaan Tuhan." Ia menutup dengan pertanyaan yang indah: siapa gerangan pernah kenyang-kenyang memandang kemuliaan Tuhan?
Kita punya mata yang sehat, tetapi sering buta kebiasaan. Langit pagi tidak lagi kita tengok. Berkat harian tidak lagi kita hitung. Barangkali doa Bartimeus perlu menjadi doa kita juga.
Rabuni, buatlah aku melihat: melihat karya-Mu, kebaikan-Mu, dan wajah-Mu di sekitarku. Amin.