Senin, 24 Mei 2027
Pergi dengan Sedih
Siapa pernah pindah rumah tahu rasanya: barang-barang yang bertahun-tahun kita kumpulkan tiba-tiba berubah menjadi beban. Lemari yang dulu dibeli dengan bangga kini menyulitkan langkah. Makin banyak milik, makin berat pindahnya.
Orang muda dalam Injil hari ini datang berlari-lari dan bertelut. Sungguh niat. Pertanyaannya pun mulia: apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal? Semua perintah sudah ia turuti sejak masa mudanya. Lalu Markus mencatat kalimat yang lembut: Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya. Justru karena mengasihi, Yesus menunjuk satu-satunya hal yang mengikat orang itu: "Juallah apa yang kaumiliki, berikanlah kepada orang-orang miskin, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."
Ia pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya. Kalimat itu pahit. Ia tidak ditolak Yesus. Ia menolak dirinya sendiri, tertahan oleh barang bawaannya. Ia mau hidup kekal, tetapi tidak mau pindah.
Harta di sini tidak selalu uang. Bisa jabatan, rasa aman, dendam yang kita pelihara, kebiasaan yang kita tahu salah tetapi nyaman. Apa pun yang membuat kita pergi dengan sedih setiap kali Yesus memanggil lebih dekat.
Kabar baiknya ada di kalimat penutup: bagi Allah segala sesuatu mungkin. Termasuk melepaskan genggaman kita yang paling erat.
Tuhan, tunjukkanlah satu hal yang masih kugenggam, dan mampukanlah aku melepaskannya demi Engkau. Amin.