Minggu, 23 Mei 2027
Surat Cinta di Dasar Lemari
Di dasar lemari banyak keluarga, tersimpan bungkusan yang jarang dibuka: surat-surat lama. Surat cinta bapak kepada ibu, kartu ucapan yang tintanya mulai pudar. Kertasnya murah, tetapi tidak ada yang tega membuangnya. Sebab yang tersimpan di sana bukan kertas, melainkan relasi.
Hari ini kita merayakan Tritunggal Mahakudus. Banyak orang gentar dengan perayaan ini, seolah kita disuruh memahami rumus matematika surgawi: satu Allah tiga Pribadi. Padahal bacaan-bacaan hari ini sama sekali tidak berbau rumus. Semuanya berbicara tentang relasi kasih.
Dengarlah Hosea. Allah berbicara kepada umat-Nya bukan sebagai penguasa kepada bawahan, melainkan sebagai mempelai: "Engkau akan memanggil Aku: Suamiku, dan tidak lagi memanggil Aku: Baalku!" Baal berarti tuan, majikan. Allah menolak dipanggil majikan oleh umat-Nya. Ia ingin dipanggil suami, kekasih. Relasi upahan diganti relasi cinta. Bahkan langit dan bumi ikut ditarik ke dalam percakapan mesra itu: langit mendengarkan bumi, bumi mendengarkan gandum, anggur, dan minyak. Seluruh semesta menjadi rangkaian saling mendengarkan.
Yesus dalam Injil memakai bahasa yang sama. Ketika ditanya soal puasa, Ia menjawab dengan gambaran pesta: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka?" Kehadiran Allah di tengah manusia itu suasana pesta pernikahan, bukan suasana kantor pajak. Anggur baru ini tidak muat dalam kantong kulit tua ketakutan dan hitung-hitungan.
Lalu di manakah Tritunggal? Justru di sinilah. Allah adalah kasih. Dan kasih tidak pernah sendirian: ada yang mengasihi, ada yang dikasihi, ada kasih yang mengalir di antara keduanya. Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Sejak kekal Allah bukan kesepian yang mahabesar, melainkan persekutuan kasih yang berlimpah. Dan karena berlimpah itulah kita diciptakan, ditebus, dan didiami.
Paulus menutup dengan gambaran yang indah: kamu adalah surat Kristus, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh Allah yang hidup, bukan pada loh batu, melainkan pada hati manusia. Hidup kita ini surat cinta yang sedang ditulis Allah Tritunggal, dan dibaca oleh semua orang di sekitar kita.
Maka setiap kali kita membuat tanda salib, dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, kita sedang membubuhkan alamat pengirim pada surat hidup kita. Pertanyaannya: masih terbacakah tulisan kasih itu di halaman hari-hari kita?
Allah Tritunggal Mahakudus, tulislah kasih-Mu pada hatiku, agar hidupku menjadi surat yang layak Kaukirim kepada dunia. Amin.