Sabtu, 22 Mei 2027
Gerabah yang Bersyukur
Lihatlah perajin gerabah bekerja. Tanah liat yang sama bisa menjadi kendi, pot, atau celengan. Semuanya dari lempung, semuanya akan kembali menjadi tanah kalau pecah. Tetapi tidak ada gerabah yang tahu bahwa dirinya gerabah.
Sirakh hari ini merenungkan manusia dengan takjub. Kita ini diciptakan dari tanah, dan ke sana akan dikembalikan. Sampai di sini kita setara dengan kendi. Tetapi kalimat berikutnya membuat merinding: menurut gambar Allah manusia dijadikan, diberi lidah, mata, telinga, dan hati untuk berpikir. Tuhan bahkan menanamkan mata-Nya sendiri di dalam hati manusia. Bayangkan itu: tanah yang bisa memandang keagungan Penciptanya. Gerabah yang bisa bersyukur.
Dua kebenaran itu harus dipegang serentak. Kita debu, maka tak pantas sombong. Kita gambar Allah, maka tak boleh minder. Yang satu tanpa yang lain membuat kita timpang.
Injil melanjutkan kisah kemarin. Sesudah berbicara tentang kesetiaan suami istri, Yesus menyambut anak-anak yang dihalau para murid. Anak-anak paling mudah memegang dua kebenaran tadi: tahu diri kecil, sekaligus yakin sepenuhnya dikasihi. Maka mereka datang tanpa beban, dan Yesus memeluk mereka. "Barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya."
Hari ini, datanglah kepada Tuhan seperti itu: sadar rapuh, yakin dikasihi.
Pencipta yang baik, aku tanah liat di tangan-Mu. Bentuklah aku menurut kehendak-Mu. Amin.