Jumat, 21 Mei 2027
Obat Kehidupan
Coba hitung, berapa banyak kenalan kita? Ratusan, mungkin ribuan. Lalu hitung lagi: berapa yang akan datang ketika kita jatuh? Hitungan kedua ini biasanya cukup dengan jari sebelah tangan.
Sirakh, yang kemarin menegur kita soal menunda tobat, hari ini memetakan soal persahabatan. Ada sahabat yang hadir hanya menurut kepentingannya sendiri. Ada yang ikut serta di perjamuan makan, tetapi menghilang pada hari kesukaran. Ada pula yang berubah menjadi musuh dan menyebar aib. Lalu ia menulis kalimat yang layak digantung di dinding rumah: "Sahabat setiawan merupakan perlindungan yang kokoh. Sahabat setiawan adalah obat kehidupan."
Obat kehidupan. Bukan hiburan, bukan pelengkap. Obat. Artinya tanpa dia, ada yang tidak sembuh-sembuh dalam diri kita.
Injil hari ini berbicara tentang perkawinan, dan sesungguhnya masih satu tarikan napas. Sebab apakah perkawinan itu kalau bukan persahabatan yang paling total? "Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." Kesetiaan suami istri adalah bentuk tertinggi dari sahabat setiawan itu: bertahan bukan hanya di perjamuan, tetapi juga di hari-hari yang sukar.
Hari ini baik kita periksa diri, bukan dengan bertanya berapa sahabat setia yang kumiliki, melainkan: bagi siapa aku menjadi sahabat yang setia?
Tuhan, Sahabat yang tak pernah meninggalkan, jadikanlah aku obat kehidupan bagi orang-orang di dekatku. Amin.