Kamis, 20 Mei 2027
Sesuk Wae
Di rumah kita ada satu kalimat sakti yang bisa menunda apa saja: besok saja. Orang Jawa menyebutnya sesuk wae. Menambal genteng bocor, besok saja. Menengok saudara yang sakit, besok saja. Kalimat pendek itu terdengar ringan, padahal daya tundanya luar biasa.
Sirakh, yang kemarin mengajak kita mengejar kebijaksanaan, hari ini menembak kebiasaan itu tepat di jantungnya: "Jangan menunda-nunda berbalik kepada Tuhan, jangan kautangguhkan dari hari ke hari." Ia juga membongkar alasan yang biasa kita pakai: ah, Tuhan panjang sabar, belas kasihan-Nya besar, dosaku pasti diampuni. Benar, belas kasihan-Nya besar. Tetapi menjadikan kemurahan Tuhan sebagai alasan menunda tobat, kata Sirakh, sama dengan menimbun dosa demi dosa. Kemurahan kok dimanfaatkan.
Pertobatan memang paling sering kalah bukan oleh penolakan, melainkan oleh penundaan. Tidak ada orang yang berkata tidak mau baik. Yang ada, mau baik nanti.
Yesus dalam Injil memakai bahasa yang keras tentang tangan, kaki, dan mata yang menyesatkan: penggal, cungkil. Bukan perintah harfiah, melainkan ketegasan: jangan bernegosiasi dengan apa pun yang menjauhkanmu dari hidup.
Apa satu hal yang sudah lama kita tunda di hadapan Tuhan? Berdamai? Mengaku dosa? Hari ini kata besok itu kita coret.
Tuhan, jangan biarkan aku menunda kembali kepada-Mu. Hari ini juga aku mau berbalik. Amin.