‹ Semua renungan

Minggu, 16 Mei 2027

Bahasa Ibu

Tanyakan pada para perantau, apa yang paling menghangatkan hati di negeri orang. Jawabannya sering sederhana: mendengar bahasa ibu. Di tengah keramaian kota asing, tiba-tiba terdengar logat kampung halaman. Kepala langsung menoleh. Rasanya seperti dirangkul dari jauh.

Hari ini kita merayakan Pentakosta. Namanya dari bahasa Yunani, pentekoste, artinya hari kelimapuluh sesudah Paskah. Yerusalem sedang penuh perantau dari segala bangsa di bawah kolong langit. Lalu turunlah Roh Kudus seperti tiupan angin keras dan lidah-lidah api. Para rasul berbicara, dan terjadilah keajaiban itu: setiap orang mendengar mereka berkata-kata dalam bahasanya sendiri. Orang Partia mendengar bahasa Partia. Orang Mesir mendengar bahasa Mesir. Orang Kreta dan orang Arab tercengang-cengang: bukankah yang berbicara itu semuanya orang Galilea, orang udik dari kampung nelayan?

Perhatikan cara Allah bekerja. Ia tidak memaksa semua orang mempelajari satu bahasa resmi surga. Roh justru turun dan menyapa setiap orang dalam bahasa ibunya masing-masing. Allah yang mendatangi, bukan manusia yang harus mendaki. Sejak hari itulah Gereja lahir: bukan sebagai satu suku besar yang seragam, melainkan keluarga segala bangsa yang masing-masing disapa dengan mesra.

Minggu lalu kita mendengar para rasul melengkapi barisan dengan memilih Matias. Barisan sudah genap, tetapi mereka masih mengunci diri di ruangan. Hari ini pintu-pintu itu didobrak dari dalam. Injil melukiskan awalnya: Yesus datang di tengah murid-murid yang ketakutan, mengembusi mereka, dan berkata, "Terimalah Roh Kudus." Embusan itu mengingatkan kita pada penciptaan, waktu Allah mengembuskan napas hidup ke dalam manusia. Pentakosta adalah penciptaan baru. Dari segumpal ketakutan, jadilah Gereja yang berani.

Paulus dalam bacaan kedua menambahkan satu hal penting: ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. Maka jangan tanya karunia siapa yang paling hebat. Tanyakan apakah karunia kita sudah dipakai untuk kepentingan bersama, atau masih disimpan untuk pameran pribadi.

Roh yang sama itu masih bekerja sampai hari ini. Setiap kali kita menerjemahkan kasih Allah ke dalam bahasa yang dimengerti orang di dekat kita, entah bahasa masakan hangat, bahasa kunjungan, bahasa pengampunan, Pentakosta terjadi lagi. Sebab bahasa apakah yang dimengerti semua bangsa kalau bukan bahasa kasih?

Datanglah, Roh Kudus. Penuhilah hatiku, dan ajarilah aku mewartakan karya Allah dalam bahasa yang dipahami sesamaku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →