Senin, 10 Mei 2027
Sumur di Halaman Belakang
Ada cerita lama tentang keluarga yang bertahun-tahun membeli air, padahal di halaman belakang rumahnya ada sumur tua. Mereka bukan tidak punya. Mereka tidak tahu bahwa mereka punya.
Di Efesus, Paulus menjumpai belasan murid yang tekun. Ia bertanya, "Sudahkah kamu menerima Roh Kudus ketika kamu menjadi percaya?" Jawaban mereka polos sekali: "Belum, bahkan kami belum pernah mendengar bahwa ada Roh Kudus." Mereka beriman, tetapi baru sampai baptisan Yohanes, baptisan tobat. Ada karunia besar yang belum mereka kenal. Setelah dibaptis dalam nama Yesus dan ditumpangi tangan, Roh Kudus turun, dan hidup mereka menyala.
Pertanyaan Paulus itu layak singgah pada kita: sudahkah kita menerima Roh Kudus? Secara sakramen, sudah, sejak baptis dan krisma. Tetapi secara kesadaran? Jangan-jangan Roh itu seperti sumur di halaman belakang: ada, penuh, tetapi tidak pernah ditimba. Kita mengeluh kering, padahal sumbernya sedekat itu.
Yesus dalam Injil berterus terang: "Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia." Kekuatan hati itu bukan hasil menabah-nabahkan diri. Ia air yang ditimba dari Roh yang tinggal dalam kita.
Sesudah merayakan Pentakosta kemarin, mari kita timba lagi sumur itu: dalam doa yang sungguh, bukan sekadar hafalan.
Roh Kudus, Engkau sudah lama tinggal dalam diriku. Sadarkanlah aku akan kehadiran-Mu, dan nyalakanlah aku. Amin.