‹ Semua renungan

Minggu, 9 Mei 2027

Terpilih Lewat Undi

Dalam banyak urusan kampung, undian adalah jalan damai. Arisan diundi. Pembagian lapak pasar diundi. Nomor kavling rumah bantuan pun diundi. Di balik gulungan kertas kecil itu ada pengakuan yang rendah hati: penilaian manusia terbatas, maka biarlah keputusan jatuh dari atas.

Bacaan pertama hari ini merekam undian paling bersejarah dalam Gereja perdana. Kursi Yudas kosong, dan kesebelas rasul harus mencari pengganti. Mereka mengajukan dua nama, Yusuf Barsabas dan Matias. Keduanya sama-sama layak, sama-sama menyertai Yesus sejak baptisan Yohanes. Lalu mereka berdoa: "Ya Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang, tunjukkanlah siapa yang Engkau pilih." Undi dibuang, dan Matias terpilih. Yang kalah undi, Yusuf Barsabas, tidak protes dan tidak membuat kubu tandingan. Ia kembali ke barisan, tetap murid seperti sebelumnya.

Perhatikan urutannya: doa dulu, undi kemudian. Undi itu bukan untung-untungan, melainkan penyerahan. Gereja tidak memilih berdasarkan suara terbanyak atau penampilan terbaik, tetapi menyerahkan keputusan kepada Dia yang mengenal hati. Dan Matias, yang namanya nyaris tak pernah kita dengar lagi sesudahnya, memikul kerasulan itu sampai akhir. Terpilih bukan untuk terkenal, melainkan untuk setia.

Injil hari ini membawa kita ke ruang doa Yesus sendiri. Pada malam terakhir-Nya Ia berdoa untuk para murid: "Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu." Menarik bahwa Yesus tidak meminta mereka diambil dari dunia. Ia meminta mereka dilindungi di dalam dunia. Murid bukan penghuni rumah kaca. Mereka diutus ke tengah dunia yang keras, dengan jaminan pemeliharaan, bukan jaminan bebas masalah. Seperti nyala lilin yang dibawa berjalan: tidak disimpan dalam lemari, tetapi dilindungi tangan yang menudunginya.

Yohanes dalam bacaan kedua meneruskan pesan yang kita dengar Minggu lalu, bahwa Allah lebih dulu mengasihi kita. Hari ini ia menarik kesimpulannya: "Jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi." Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Tetapi jika kita saling mengasihi, Allah tinggal di dalam kita. Kasih persaudaraan adalah tempat Allah yang tak kelihatan itu menjadi kelihatan.

Kita semua sesungguhnya sudah kena undi. Dari sekian miliar manusia, kita dipanggil mengenal Kristus, entah lewat keluarga, entah lewat jalan yang berliku. Bukan karena kita paling pantas. Pertanyaannya tinggal satu: seperti Matias, maukah kita setia pada bagian yang jatuh pada kita, meski tanpa sorotan?

Bapa, Engkau mengenal hatiku dan tetap memilihku. Peliharalah aku di tengah dunia, dan jadikanlah aku setia sampai akhir. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →