Jumat, 30 April 2027
Surat yang Menghiburkan
Dulu, sebelum kabar bisa terbang dalam hitungan detik, orang menunggu surat. Amplop dari anak di perantauan dibuka hati-hati, dibaca bergantian, disimpan di lemari. Satu surat yang baik bisa menghangatkan rumah berminggu-minggu.
Bacaan pertama hari ini berkisah tentang sebuah surat semacam itu. Jemaat Antiokhia sedang gelisah. Beberapa pengajar mengatakan mereka harus disunat dulu untuk selamat. Sidang di Yerusalem menimbang perkara itu, lalu mengirim surat: adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban daripada yang perlu. Dan ketika surat itu dibacakan, Lukas mencatat kalimat yang manis: jemaat bersukacita karena isinya yang menghiburkan.
Perhatikan cara Gereja perdana memakai kata-katanya. Mereka bisa saja menulis surat yang menggurui atau menakut-nakuti. Mereka memilih meringankan beban dan menyapa dengan hormat: saudara-saudara kami yang kami kasihi. Kata-kata yang lahir dari Roh Kudus memang meninggalkan jejak yang khas: orang yang menerimanya merasa dihibur, bukan dihakimi.
Injil hari ini menyingkap akar sikap itu. Yesus berkata: Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, tetapi sahabat. Kamu adalah sahabat-Ku. Orang yang diperlakukan sebagai sahabat oleh Tuhannya akan memperlakukan sesamanya dengan cara yang sama.
Setiap hari kita mengirim banyak kata kepada orang lain, lisan maupun tulisan. Kalau kata-kata kita dibacakan di hadapan orang banyak, akankah mereka bersukacita karena isinya yang menghiburkan?
Tuhan Yesus, sahabat kami, jadikanlah kata-kata kami hari ini surat penghiburan bagi orang yang membutuhkannya. Amin.