‹ Semua renungan

Rabu, 28 April 2027

Ranting yang Tahu Diri

Perhatikan pohon mangga di halaman sesudah dipangkas. Ranting yang dipotong dan tergeletak di tanah masih hijau daunnya hari itu. Dua tiga hari kemudian ia layu, lalu kering. Tidak ada yang mengubahnya dari luar. Ia hanya terputus dari sumbernya.

Yesus memakai gambar itu dengan lembut sekaligus tegas: Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri kalau tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah jikalau tidak tinggal di dalam Aku. Lalu satu kalimat yang layak kita hafal: di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

Kita sering membaliknya. Kita ingin berbuah dulu, berprestasi rohani, baru merasa pantas dekat dengan Tuhan. Yesus mengatakan urutan sebaliknya: tinggal dulu, buah kemudian. Buah bukan hasil kerja keras ranting, melainkan hasil aliran getah dari pokok. Tugas ranting cuma satu: jangan lepas.

Bahkan ranting yang berbuah pun dibersihkan supaya lebih banyak berbuah. Pemangkasan tidak selalu enak. Kadang berupa kegagalan, teguran, atau kehilangan. Tetapi di tangan Bapa, sang pengusaha kebun, semua itu perawatan, bukan hukuman.

Jemaat dalam bacaan pertama menghadapi soal pelik tentang sunat, dan mereka membawanya bersama ke Yerusalem. Komunitas pun harus tetap melekat pada pokok yang sama agar tidak pecah.

Hari ini, seberapa erat kita melekat pada sang Pokok: doa kita, Ekaristi kita, firman-Nya?

Tuhan Yesus, pokok anggur yang benar, jagalah kami tinggal di dalam Engkau, sebab di luar Engkau kami layu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →