Selasa, 27 April 2027
Damai yang Tidak Dijual di Mana-mana
Rumah yang sunyi belum tentu rumah yang damai. Ada rumah yang tenang karena penghuninya sudah tidak saling bicara. Sebaliknya, ada rumah yang riuh oleh anak-anak tetapi hatinya utuh. Damai rupanya bukan soal tidak ada suara. Damai soal isi hati.
Yesus membedakannya dengan jelas dalam Injil hari ini: damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Damai versi dunia biasanya berarti tidak ada gangguan: aman, nyaman, semua terkendali. Damai versi Yesus lain sama sekali. Ia mengucapkannya justru pada malam perpisahan, beberapa jam sebelum ditangkap. Damai itu bertahan di tengah badai, bukan karena badainya reda, melainkan karena hati berlabuh pada Bapa.
Paulus memperlihatkan damai jenis itu dalam bacaan pertama. Di Listra ia dilempari batu, diseret ke luar kota, disangka sudah mati. Ketika murid-murid mengelilinginya, ia bangkit, dan masuk kembali ke kota itu. Keesokan harinya ia sudah melanjutkan perjalanan, menguatkan para murid dengan pesan yang ia hayati sendiri: untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara. Orang yang membawa damai Kristus tidak kebal terhadap batu, tetapi tidak bisa dihentikan olehnya.
Kita menghabiskan banyak tenaga mengejar damai versi dunia: menghindari masalah, mengamankan segalanya. Padahal ada damai yang ditawarkan cuma-cuma, yang tidak bergantung pada keadaan.
Damai mana yang sedang kita kejar?
Tuhan Yesus, berilah kami damai-Mu, yang tidak dapat diberikan dan tidak dapat dirampas oleh dunia. Amin.