‹ Semua renungan

Senin, 26 April 2027

Hujan yang Berkhotbah

Sesudah kemarau panjang, hujan pertama adalah peristiwa. Bau tanah basah naik ke udara. Petani keluar memandang langit. Orang tua di desa menyebutnya dengan singkat: udan iku berkah, hujan itu berkah. Tidak perlu khotbah panjang; langit sendiri sedang berbicara.

Paulus memakai bahasa langit itu di Listra. Ketika ia menyembuhkan orang lumpuh, penduduk kota malah mengira dewa-dewa turun ke bumi. Mereka menyebut Barnabas Zeus dan Paulus Hermes, lalu menyiapkan kurban. Kedua rasul mengoyakkan pakaian mereka: kami ini manusia biasa sama seperti kamu! Lalu Paulus menunjuk kepada Allah yang hidup dengan bukti yang bisa dipahami semua orang: Ia menurunkan hujan dari langit, memberikan musim-musim subur, memuaskan hatimu dengan makanan dan kegembiraan. Bagi orang yang belum mengenal Kitab Suci, alam adalah halaman pertama pewartaan Allah.

Injil hari ini melangkah lebih jauh. Allah tidak puas menyapa dari langit. Yesus berjanji: jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku, dan Bapa-Ku akan mengasihi dia, dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia. Dari hujan yang turun ke bumi menuju Allah yang tinggal di hati. Itulah arah kasih-Nya: makin dekat, makin dalam.

Kalau hujan saja bisa berkhotbah tentang kebaikan Allah, mestinya hidup kita pun bisa. Adakah orang yang mengenali kebaikan Allah dari cara kita hidup?

Allah yang hidup, Engkau menyapa kami lewat hujan dan musim, dan tinggal dalam hati yang mengasihi-Mu. Jadikanlah hidup kami tanda kebaikan-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →