Kamis, 22 April 2027
Kurir Tidak Mengarang Pesan
Kurir yang baik punya satu pantangan: mengubah isi kiriman. Ia boleh hujan-hujanan, boleh tersesat, boleh lelah. Tetapi paket harus sampai sebagaimana adanya. Tidak dikurangi, tidak ditambahi. Sebab paket itu bukan miliknya. Ia hanya diutus mengantar.
Yesus berbicara tentang posisi itu dalam Injil hari ini: seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya, ataupun seorang utusan daripada dia yang mengutusnya. Lalu Ia menambahkan janji yang besar: barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku. Utusan yang setia membawa kehadiran Pengutusnya.
Bacaan pertama memberi dua teladan. Paulus di Antiokhia Pisidia tidak berkhotbah tentang dirinya. Ia merunut karya Allah dari Mesir sampai Daud, lalu menunjuk kepada Yesus, Juruselamat yang dijanjikan. Dan sebelum Paulus, ada Yohanes Pembaptis, utusan yang tahu batas dirinya: aku bukanlah Dia yang kamu sangka; membuka kasut dari kaki-Nya pun aku tidak layak.
Kita semua adalah kurir kabar baik, masing-masing dengan rute sendiri: keluarga, kantor, lingkungan. Godaannya selalu sama: menonjolkan diri, atau mengubah isi pesan supaya enak didengar.
Hari ini, apakah pesan Tuhan sampai utuh lewat hidup kita, atau sudah kita edit seperlunya?
Tuhan, jadikanlah kami utusan yang setia, yang mengantarkan kasih-Mu tanpa mengurangi dan menambahkan. Amin.