Minggu, 11 April 2027
Saksi Mata
Di pengadilan, saksi adalah orang yang paling sederhana tugasnya sekaligus paling berat. Ia tidak boleh berteori. Ia tidak boleh mengarang. Ia hanya boleh menceritakan apa yang dilihat dan didengarnya sendiri. Justru karena sederhana itulah kesaksiannya bernilai. Pengacara bisa dibantah. Saksi mata sulit dibantah.
Injil Minggu ini ditutup dengan kalimat penugasan yang pendek: kamu adalah saksi dari semuanya ini. Bukan kamu adalah pengkhotbah ulung. Bukan kamu adalah ahli kitab. Saksi. Orang yang bercerita dari pengalaman.
Dan lihatlah apa yang mereka alami malam itu. Dua murid dari Emaus baru selesai bercerita bagaimana mereka mengenali Yesus saat Ia memecah roti. Tiba-tiba Yesus sendiri berdiri di tengah mereka. Mereka terkejut, mengira melihat hantu. Yesus menenangkan mereka dengan cara yang sangat membumi: rabalah Aku. Lalu Ia makan sepotong ikan goreng di depan mata mereka. Sesudah itu Ia membuka pikiran mereka sehingga mengerti Kitab Suci: Mesias memang harus menderita dan bangkit pada hari ketiga.
Perhatikan urutan itu. Pengalaman dulu, pengertian kemudian. Mereka bukan percaya karena sudah paham. Mereka paham karena sudah berjumpa. Iman kristiani memang bukan pertama-tama sistem gagasan, melainkan perjumpaan dengan Pribadi yang hidup.
Bacaan pertama menunjukkan Petrus menjalankan tugas kesaksian itu. Di depan orang banyak ia berbicara terus terang: kamu telah membunuh Pemimpin kepada hidup, tetapi Allah membangkitkan Dia, dan tentang hal itu kami adalah saksi. Namun kesaksiannya tidak berhenti pada menunjuk kesalahan. Ia segera melunak: aku tahu kamu berbuat demikian karena ketidaktahuan. Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan. Saksi sejati tidak mendakwa untuk menghancurkan. Ia mendakwa untuk menyelamatkan. Yohanes dalam bacaan kedua merangkumnya: jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai pengantara pada Bapa, Yesus Kristus yang adil.
Di sinilah kita sering keliru memahami tugas kita. Kita mengira menjadi saksi Kristus berarti pandai berdebat membela agama. Padahal yang diminta jauh lebih sederhana dan jauh lebih sulit: menceritakan dengan jujur apa yang telah Tuhan kerjakan dalam hidup kita. Doa yang dijawab. Dosa yang diampuni. Hati yang dipulihkan. Kalau tidak ada yang bisa diceritakan, jangan-jangan bukan mulut kita yang bermasalah, melainkan perjumpaan kita yang belum terjadi.
Minggu ini, cerita apa tentang karya Tuhan yang bisa kita saksikan kepada satu orang saja?
Tuhan Yesus, bukalah pikiran kami untuk mengerti Kitab Suci, dan bukalah mulut kami untuk menjadi saksi-Mu yang jujur. Amin.