‹ Semua renungan

Jumat, 2 April 2027

Sarapan di Tepi Danau

Nelayan tahu rasanya pulang dengan perahu kosong. Semalaman melaut, badan lelah, jala basah, dan tidak ada apa-apa untuk dibawa ke pasar. Pagi seperti itu terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan hanya karena embun.

Petrus dan kawan-kawannya mengalami pagi semacam itu. Sepanjang malam mereka menebar jala di danau Tiberias. Hasilnya nol. Lalu dari pantai terdengar suara orang bertanya: hai anak-anak, adakah lauk-pauk padamu? Pertanyaan yang menusuk untuk nelayan yang gagal. Tetapi suara itu menyuruh mereka menebarkan jala di sebelah kanan perahu. Dan jala itu tiba-tiba sesak. Seratus lima puluh tiga ekor ikan besar.

Yohanes langsung mengenali: itu Tuhan. Menarik, ia mengenali Yesus bukan dari wajah-Nya, melainkan dari kelimpahan-Nya. Kegagalan yang berubah menjadi limpahan, itulah tanda tangan Tuhan yang mereka hafal.

Tetapi bagian yang paling mengharukan justru di darat. Sampai di pantai, mereka mendapati api arang sudah menyala. Ikan sudah dipanggang. Roti sudah tersedia. Tuhan yang baru saja mengalahkan maut ternyata sibuk menyiapkan sarapan untuk para sahabat-Nya yang lelah. Orang Jawa punya ungkapan, mangan ora mangan sing penting kumpul. Yesus melampauinya: Ia mengumpulkan mereka, dan memberi mereka makan.

Tidak ada satu pun kata teguran pagi itu. Padahal orang-orang di perahu itu adalah orang-orang yang lari ketika Ia ditangkap. Petrus bahkan menyangkal-Nya tiga kali. Kalau kita yang dikhianati, mungkin sarapan itu akan penuh sindiran. Yesus hanya berkata: marilah dan sarapanlah. Pengampunan disajikan hangat-hangat, seperti sarapan itu sendiri.

Di Yerusalem, Petrus yang pernah gagal itu kelak berdiri di depan para pemimpin dan berkata berani: Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan, namun telah menjadi batu penjuru. Petrus tahu persis apa artinya dibuang lalu dipulihkan. Ia mengalaminya sendiri, di tepi danau, dengan perut kenyang dan hati yang diampuni.

Kita pun sering menghadap Tuhan dengan perahu kosong. Usaha yang gagal. Doa yang terasa hampa. Malam yang panjang tanpa hasil. Injil hari ini berbisik: justru di pagi-pagi seperti itulah Tuhan berdiri di pantai kita. Bukan untuk mengadili, melainkan untuk menyalakan api dan menyiapkan makan.

Adakah kegagalan yang sedang kita tutupi dari Tuhan, padahal Ia sudah menunggu di pantainya dengan sarapan hangat?

Tuhan Yesus, Engkau menyambut para murid yang gagal dengan api arang dan roti. Sambutlah juga kami, dan pulihkanlah kami dalam kasih-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →