Kamis, 1 April 2027
Sepotong Ikan Goreng
Di dapur, tidak ada yang samar. Minyak panas berbunyi. Ikan menguning. Bau gorengan menjalar sampai ke ruang tamu. Dapur adalah tempat paling jujur di rumah kita. Yang lapar ketahuan. Yang kenyang kelihatan.
Aneh sekali bahwa kisah kebangkitan, peristiwa paling agung dalam iman kita, justru mampir ke wilayah dapur. Yesus yang bangkit berdiri di tengah para murid. Mereka ketakutan, menyangka melihat hantu. Lalu apa yang dilakukan Yesus? Ia tidak berpidato panjang tentang teologi kebangkitan. Ia bertanya: adakah makanan di sini? Mereka memberi-Nya sepotong ikan goreng. Ia memakannya di depan mata mereka.
Mengapa ikan goreng? Mengapa bukan cahaya menyilaukan atau gempa dahsyat? Karena hantu tidak makan. Bayangan tidak mengunyah. Dengan sepotong ikan itu Yesus berkata tanpa kata: Aku bukan kenangan kalian yang berhalusinasi. Aku hidup. Sungguh-sungguh hidup, dengan daging dan tulang.
Kebangkitan memang bukan gagasan indah untuk direnungkan sambil melamun. Ia peristiwa yang bisa disentuh, ditatap, bahkan diajak makan. Karena itu di Serambi Salomo Petrus berani berkata lantang kepada orang banyak: Yesus yang kamu bunuh telah dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami adalah saksi. Saksi mata. Saksi meja makan.
Petrus tidak berhenti pada kesaksian. Ia mengajak para pendengarnya bertobat, supaya dosa dihapuskan dan datang waktu kelegaan. Menarik sekali. Kabar kebangkitan tidak pernah berhenti sebagai berita. Ia selalu menuntut jawaban dari yang mendengar.
Kita hidup dua ribu tahun sesudah sarapan ikan goreng itu. Kita tidak melihat dengan mata kepala sendiri. Tetapi kita mewarisi meja yang sama. Setiap kali Ekaristi dirayakan, Tuhan yang bangkit kembali makan bersama kita. Ia tetap memilih cara yang paling membumi: roti, meja, tubuh.
Maka pertanyaannya sederhana. Kalau Tuhan yang bangkit sedemikian nyata, mengapa iman kita sering begitu samar? Kita percaya, tapi hidup kita tidak berubah apa-apa. Kita merayakan Paskah, tapi tetangga tidak melihat bedanya.
Para murid berubah dari orang ketakutan di ruang terkunci menjadi saksi yang berbicara di serambi umum. Perubahan itulah bukti kebangkitan yang paling meyakinkan. Bukan argumen. Bukan mukjizat spektakuler. Melainkan hidup yang berbeda.
Hari ini, adakah satu hal kecil dan nyata, senyata ikan goreng, yang bisa menjadi tanda bahwa Tuhan kita hidup?
Tuhan Yesus yang bangkit, Engkau hadir dalam hal-hal sederhana di meja kami. Jadikanlah hidup kami saksi yang nyata bagi kebangkitan-Mu. Amin.