Rabu, 31 Maret 2027
Kawan Seperjalanan
Bahasa kita menyimpan sebuah rahasia indah dalam kata kawan. Kata itu berkerabat dengan istilah Latin companio, dari cum dan panis: orang yang berbagi roti. Kawan sejati memang bukan sekadar orang yang searah jalannya, melainkan orang yang mau duduk semeja dan memecah roti yang sama.
Sore itu dua murid berjalan ke Emaus, tujuh mil dari Yerusalem. Langkah mereka berat, muka mereka muram. Kalimat mereka mungkin kalimat paling sedih dalam Injil: padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan Israel. Padahal kami dahulu mengharapkan. Siapa yang tidak pernah mengucapkan kalimat seperti itu? Harapan yang dikubur memang membuat orang meninggalkan Yerusalem, menjauh dari komunitas, berjalan pulang ke hidup yang lama.
Lalu seorang Asing menyusul dan berjalan bersama mereka. Yesus sendiri, tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka. Dan lihatlah cara-Nya menemani: Ia tidak langsung menyatakan diri. Ia bertanya dulu, apakah yang kamu percakapkan? Ia membiarkan mereka menumpahkan seluruh kekecewaan. Allah rupanya pendengar yang sabar sebelum menjadi pengajar.
Baru sesudah itu Ia menerangkan Kitab Suci, mulai dari Musa dan para nabi: bukankah Mesias harus menderita untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya? Perlahan sesuatu menyala kembali. Bukankah hati kita berkobar-kobar ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan?
Namun mata mereka baru terbuka di meja makan. Ketika Ia mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya, dan memberikannya. Empat kata kerja yang sama dengan malam perjamuan terakhir. Pada saat itulah mereka mengenal Dia, dan Ia lenyap. Seolah Yesus berkata: mulai sekarang, kenalilah Aku di sini, pada roti yang dipecah.
Kisah Emaus adalah cermin setiap Misa: kita datang membawa muram, mendengarkan Sabda yang membuat hati berkobar, mengenali Dia dalam pemecahan roti, lalu diutus. Sebab dua murid itu bangun malam itu juga dan berjalan kembali tujuh mil ke Yerusalem. Kaki yang tadinya lari dari kenyataan kini berlari membawa kabar.
Dalam bacaan pertama, Petrus berkata kepada pengemis lumpuh: emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu. Itulah buah perjumpaan Paskah: kita mungkin tidak punya banyak, tetapi kita punya Dia untuk dibagikan.
Siapa kawan seperjalanan yang muram, yang menunggu kita temani hari ini?
Tuhan Yesus, tinggallah bersama kami, sebab hari hampir malam. Buatlah hatiku berkobar oleh Sabda-Mu, dan bukalah mataku pada pemecahan roti. Amin.