‹ Semua renungan

Selasa, 30 Maret 2027

Dipanggil dengan Nama

Di tengah pasar yang riuh, kita bisa mengabaikan seratus suara. Tetapi begitu ada yang memanggil nama kita, kepala langsung menoleh. Nama bekerja seperti kunci: dari sekian banyak pintu, ia hanya membuka satu.

Maria Magdalena berdiri dekat kubur dan menangis. Ia datang paling pagi dan pulang paling akhir. Baginya cerita sudah tamat, tinggal satu urusan tersisa: menemukan jenazah yang hilang. Kesedihan itu begitu pekat sampai matanya tidak berfungsi lagi. Dua malaikat tidak membuatnya kaget. Bahkan ketika Yesus sendiri berdiri di hadapannya, ia menyangka orang itu penunggu taman.

Ada yang mengharukan dalam salah sangka itu. Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya. Perempuan itu hendak memikul sendiri jenazah seorang laki-laki dewasa. Kasih memang tidak pernah menghitung kekuatan sendiri.

Lalu Yesus mengucapkan satu kata saja: Maria. Bukan khotbah, bukan pembuktian, bukan tujuh dalil kebangkitan. Hanya namanya. Dan seketika dunia perempuan itu berputar arah. Rabuni, jawabnya. Gembala yang baik memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya, kata Yesus dulu. Pagi itu kalimat tersebut terbukti di depan sebuah kubur kosong.

Kita sering mencari Allah dalam perkara yang besar dan gemuruh, padahal Ia paling sering datang seperti ini: memanggil nama kita pelan-pelan di tengah tangis, di tempat yang kita sangka hanya ada tukang kebun. Kebangkitan tidak selalu terasa seperti gempa. Kadang ia terasa seperti mendengar nama sendiri disebut oleh Suara yang kita kenal. Dan sapaan sependek itu cukup untuk membangunkan orang dari kubur kesedihannya.

Menarik pula bahwa Yesus tidak membiarkan Maria berlama-lama memeluk-Nya. Janganlah engkau memegang Aku, kata-Nya, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku. Sukacita yang sejati tidak boleh berhenti menjadi milik pribadi. Maka Maria pergi dan mengucapkan kalimat kesaksian pertama dalam sejarah Gereja: aku telah melihat Tuhan. Para bapa Gereja menjulukinya apostola apostolorum, rasul bagi para rasul. Perempuan yang dulu dibebaskan dari tujuh setan menjadi pewarta pertama kebangkitan.

Dalam bacaan pertama, tiga ribu orang bertobat sesudah mendengar Petrus. Gelombang sebesar itu bermula dari hal-hal kecil: satu nama dipanggil, satu orang percaya, satu kesaksian dibagikan.

Hari ini, di tengah riuhnya hidup, maukah kita menoleh ketika Ia memanggil nama kita?

Tuhan Yesus, Engkau mengenal namaku. Panggillah aku keluar dari tangisku, dan utuslah aku membawa kabar sukacita-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →