Minggu, 28 Maret 2027
Kain yang Tergulung Rapi
Orang yang meninggalkan rumah dengan terburu-buru selalu meninggalkan jejak: pintu tak terkunci, barang berserakan, kursi miring. Sebaliknya, orang yang pergi dengan tenang merapikan dulu tempatnya. Dari keadaan sebuah ruangan, kita bisa menebak bagaimana penghuninya pergi.
Selamat Paskah! Kristus telah bangkit, alleluya! Dan menariknya, Injil hari raya terbesar ini tidak menampilkan gempa, malaikat bercahaya, atau Yesus yang tampil gemilang. Yohanes hanya menyuguhkan sebuah ruangan kosong dan orang-orang yang berlari.
Maria Magdalena berlari kepada Petrus dengan berita panik: Tuhan telah diambil orang. Petrus dan murid yang dikasihi berlari ke kubur. Semua berlari pagi itu, sebab kasih memang tidak bisa berjalan santai. Lalu mereka menemukan bukan Yesus, melainkan bekas-bekas-Nya: kain kafan terletak di tanah, dan kain peluh yang tadinya di kepala-Nya tergulung rapi di tempat tersendiri.
Detail kecil itu berbicara banyak. Pencuri mayat tidak membuka kafan, apalagi menggulungnya rapi. Kubur itu tidak dibongkar dari luar. Ia ditinggalkan dengan tenang dari dalam, oleh Dia yang bangun dari maut seperti orang bangun pagi, melipat selimutnya, dan melangkah keluar. Maut bagi-Nya bukan penjara yang harus didobrak, melainkan pakaian tidur yang sudah tidak diperlukan lagi.
Maka masuklah juga murid yang lain itu, tulis Yohanes tentang dirinya sendiri, dan ia melihatnya dan percaya. Percaya tanpa melihat Yesus, cukup melihat tanda-tanda yang ditinggalkan-Nya. Itulah iman Paskah yang tersedia bagi kita juga. Kita pun tidak melihat Dia dengan mata kepala. Tetapi jejak-Nya berserakan di mana-mana: hidup yang berubah, pengampunan yang tak masuk akal, harapan yang menolak mati, Gereja yang bertahan dua ribu tahun oleh kesaksian orang-orang yang berani mati untuknya.
Petrus dalam bacaan pertama merangkum kesaksian itu: mereka telah membunuh Dia dengan menggantung-Nya pada kayu salib, tetapi Allah membangkitkan Dia pada hari yang ketiga. Dan kami adalah saksinya, kami yang makan dan minum bersama Dia setelah kebangkitan-Nya. Paulus menarik akibatnya bagi kita: kalau kamu dibangkitkan bersama Kristus, carilah perkara yang di atas. Orang Paskah tidak berkubang di kubur-kubur lamanya lagi.
Hari ini sukacita kita bukan karena semua masalah selesai. Sukacita kita karena kubur, kata terakhir yang paling ditakuti manusia, ternyata bukan kata terakhir.
Kubur kosong sudah bersaksi. Sekarang giliran hidup kita.
Tuhan yang bangkit, Engkau melipat kain maut dengan tenang. Bangkitkanlah aku dari segala yang mematikan harapanku, dan jadikanlah aku saksi Paskah-Mu. Alleluya. Amin.