Sabtu, 27 Maret 2027
Api di Tengah Malam
Mati lampu di malam hari selalu mengajarkan hal yang sama: betapa kecilnya nyala yang dibutuhkan untuk mengubah segalanya. Satu batang lilin di ruang yang gelap gulita kelihatan lebih terang daripada lampu seribu watt di siang bolong. Gelap tidak pernah menang melawan nyala, sekecil apa pun nyala itu.
Malam ini Gereja di seluruh dunia melakukan hal yang tampak sederhana: menyalakan api di tengah kegelapan, lalu dari satu lilin Paskah, nyala itu menjalar dari tangan ke tangan sampai seisi gereja bercahaya. Vigili Paskah dimulai dari titik nol, sebab memang dari titik nol segalanya bermula.
Bacaan pertama malam ini membawa kita ke awal yang mutlak: bumi belum berbentuk dan kosong, gelap gulita menutupi samudera raya. Lalu Allah berfirman: jadilah terang. Kalimat pertama Allah yang dicatat Kitab Suci adalah perintah kepada terang. Dan malam ini kita mendengarnya lagi, bukan sebagai kenangan, melainkan sebagai kejadian: Allah yang dulu menyalakan semesta kini menyalakan ciptaan baru dari gelapnya kubur.
Sebab kubur itulah samudera gelap yang baru. Tiga perempuan berjalan ke sana pagi-pagi benar, membawa rempah-rempah untuk merawat jenazah. Di tengah jalan mereka baru sadar ada soal teknis yang tak terpecahkan: siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi kita? Pertanyaan yang sangat manusiawi. Kita pun sering berangkat mencintai sambil membawa daftar kekhawatiran. Padahal sering kali Allah sudah bekerja jauh sebelum daftar kekhawatiran kita selesai disusun.
Tetapi ketika mereka tiba, batu yang memang sangat besar itu sudah terguling. Orang muda berjubah putih menyampaikan berita yang membalik dunia: jangan takut. Kamu mencari Yesus orang Nazaret yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini.
Paulus menjelaskan apa artinya bagi kita: dalam baptisan kita telah dikuburkan bersama Kristus, supaya kita hidup dalam hidup yang baru. Karena itulah malam ini para calon baptis dibaptis dan kita semua memperbarui janji baptis. Lilin bernyala di tangan kita bukan hiasan. Ia pengakuan: aku pun sudah ikut mati dan bangkit bersama-Nya. Orang Jawa punya pepatah yang cocok untuk malam ini: urip iku urup. Hidup itu menyala, hidup mesti menerangi.
Batu mana dalam hidup kita yang selama ini kita cemaskan, padahal mungkin sudah digulingkan-Nya?
Kristus, Terang dunia, nyalakanlah aku malam ini, dan jadikanlah hidupku nyala kecil yang meneruskan cahaya-Mu. Amin.