Jumat, 26 Maret 2027
Sudah Selesai
Ada dua macam kalimat sudah selesai. Yang pertama diucapkan orang yang menyerah: sudahlah, selesai, tidak ada gunanya lagi. Yang kedua diucapkan tukang yang berdiri memandang pekerjaannya yang rampung: sudah selesai, tidak ada lagi yang kurang. Bunyinya sama. Artinya berlawanan.
Pada jam-jam terakhir di salib, sesudah meminum anggur asam, Yesus berkata: sudah selesai. Dalam bahasa Yunani satu kata saja, tetelestai. Kata itu di zamannya juga dipakai untuk surat utang yang telah dibayar penuh: lunas. Yohanes memastikan kita tidak salah dengar: ini bukan erangan orang kalah, melainkan pernyataan Anak tukang kayu yang telah merampungkan karya yang dipercayakan Bapa kepada-Nya.
Sebab memang tidak ada yang merampas nyawa-Nya. Sepanjang kisah sengsara menurut Yohanes, Yesus tampil bukan sebagai korban yang terseret, melainkan sebagai Raja yang melangkah. Di taman, para penangkap justru jatuh ke tanah ketika Ia berkata: Akulah Dia. Di hadapan Pilatus, justru sang hakim yang gemetar dan terdakwa yang tenang. Engkau tidak mempunyai kuasa apa pun terhadap Aku, kalau tidak diberikan kepadamu dari atas.
Tujuh ratus tahun sebelumnya, Yesaya telah melukis wajah-Nya dengan tepat sampai perih: ia tertikam oleh karena pemberontakan kita, diremukkan oleh karena kejahatan kita, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, dan Tuhan menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. Setiap kata ganti dalam kalimat itu perlu dibaca pelan-pelan: bilurnya, sembuh kita.
Surat Ibrani menarik kesimpulan yang menghibur: Imam Besar kita bukan pribadi yang tidak dapat turut merasakan kelemahan kita. Ia sudah mengalami semuanya. Dikhianati sahabat, diadili tanpa keadilan, ditelanjangi, kesakitan, haus, mati. Tidak ada lembah kita yang belum pernah dilalui-Nya lebih dalam. Maka takhta kasih karunia boleh kita hampiri dengan penuh keberanian, kata surat itu. Bukan karena kita layak, melainkan karena yang duduk di sana bertangan luka.
Hari ini Gereja tidak merayakan Misa. Altar kosong, tabernakel terbuka, lonceng bisu. Kita diajak berdiri diam di kaki salib bersama Maria dan murid yang dikasihi, tanpa buru-buru melompat ke hari Minggu. Membiarkan kata lunas itu turun perlahan dari kepala ke hati. Diam pun hari ini adalah doa.
Utang mana dalam hidup kita yang masih kita coba cicil sendiri, padahal sudah dibayar-Nya lunas?
Tuhan Yesus, oleh bilur-bilur-Mu aku sembuh. Terimalah sembah sujudku di kaki salib-Mu. Amin.