‹ Semua renungan

Rabu, 24 Maret 2027

Tiga Puluh Keping

Di pasar, semua barang bisa ditawar. Tawar-menawar adalah seni yang wajar untuk beras, kain, atau ikan. Tetapi ada barang-barang yang begitu masuk meja tawar, kita tahu sesuatu sudah rusak: kesetiaan, kejujuran, persahabatan. Begitu ditanya berapa harganya, sebenarnya ia sudah terjual.

Rabu Pekan Suci sejak dulu disebut Rabu Pengkhianatan. Injil hari ini merekam transaksi paling kelam dalam sejarah. Yudas datang kepada imam-imam kepala dan bertanya: apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu? Perhatikan urutannya. Bukan mereka yang menawar Yudas. Yudas yang menawarkan Yesus.

Mereka membayar tiga puluh uang perak. Dalam kitab Keluaran, itu harga ganti rugi seorang budak yang mati ditanduk lembu. Sang Guru, yang tangan-Nya menyembuhkan orang buta dan membangkitkan orang mati, dihargai setara budak yang tewas kecelakaan. Tetapi jangan-jangan bukan angkanya yang penting bagi Yudas. Ada orang yang menjual bukan karena butuh uang, melainkan karena kecewa. Yesus tidak menjadi Mesias seperti yang ia mau. Kekecewaan yang dipelihara diam-diam memang bisa lebih berbahaya daripada kemiskinan.

Malam harinya, di meja perjamuan, Yesus berkata: seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku. Yang mengharukan adalah reaksi para murid. Tidak ada yang menunjuk orang lain. Masing-masing bertanya dengan hati sedih: bukan aku, ya Tuhan? Sebelas orang itu tahu, benih pengkhianatan ada dalam dada siapa saja.

Hanya satu orang yang bertanya dengan kata sapaan berbeda: bukan aku, ya Rabi? Yudas tidak lagi memanggil-Nya Tuhan. Bagi yang sudah menjual, Yesus tinggal seorang guru, bukan lagi Tuannya. Bahasa memang jujur. Cara kita menyebut seseorang membocorkan isi hati kita terhadapnya.

Bacaan pertama menampilkan Hamba yang memberi punggung kepada yang memukul dan tidak menyembunyikan muka dari ludah. Ia bisa diserahkan, dijual, dianiaya, tetapi satu hal tidak bisa dirampas dari-Nya: kesetiaan-Nya kepada Bapa dan kepada kita. Yang dijual tetap setia. Yang menjual justru kehilangan segalanya.

Baik juga kita periksa meja tawar kita sendiri. Berapa harga yang cukup untuk membuat kita menjual kejujuran? Sebuah kenaikan pangkat? Rasa aman? Gengsi yang terluka?

Bukan aku, ya Tuhan? Biarlah pertanyaan itu kita bawa dengan gemetar, bukan dengan percaya diri.

Tuhan Yesus, Engkau tahu betapa mudahnya hatiku ditawar. Peganglah aku erat-erat, supaya tidak ada harga yang sanggup membeliku dari-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →