Selasa, 23 Maret 2027
Hari Sudah Malam
Ada kalimat-kalimat pendek dalam Kitab Suci yang bekerja seperti lampu padam. Salah satunya ada di Injil hari ini. Sesudah Yudas menerima roti dari tangan Yesus, ia keluar. Lalu Yohanes menulis empat kata yang dingin: pada waktu itu hari sudah malam.
Yohanes jarang menulis keterangan waktu tanpa maksud. Malam di sini bukan sekadar jam di dinding. Yudas berjalan keluar dari terang menuju gelap, meninggalkan perjamuan menuju persekongkolan. Pintu yang tertutup di belakangnya adalah salah satu bunyi paling sedih dalam seluruh Injil.
Yang menyayat, semuanya terjadi begitu dekat. Yudas bukan orang luar. Ia satu meja, satu pinggan, tiga tahun berjalan bersama. Yesus bahkan memberinya roti, isyarat kehormatan bagi tamu yang dikasihi. Sampai detik terakhir, tangan itu masih terulur. Yudas menerima rotinya dan menolak kasihnya.
Dan jangan buru-buru merasa aman, sebab malam itu ada dua murid yang jatuh. Petrus dengan gagah berkata: aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu. Yesus menjawab lembut dan pahit: sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali. Yudas jatuh karena rencana, Petrus jatuh karena terlalu yakin pada dirinya sendiri. Dua jalan yang berbeda menuju kegagalan yang sama. Dan Yesus tidak mengusir satu pun dari meja-Nya. Ia memberi roti kepada Yudas, Ia memberitahukan kelemahan Petrus sebelum terjadi. Kasih-Nya bekerja sampai batas paling akhir kebebasan manusia.
Bedanya terletak pada apa yang terjadi sesudah jatuh. Petrus menangis dan kembali. Yudas menyerah pada malamnya. Keduanya dikhianati bukan oleh kelemahan mereka, sebab keduanya sama-sama lemah, melainkan oleh cara mereka menanggapi kelemahan itu.
Bacaan pertama memberi kita nyanyian Hamba Tuhan yang merasa bersusah-susah dengan percuma. Ada nada lelah di sana, sangat manusiawi. Tetapi ia berpegang: hakku terjamin pada Tuhan. Bahkan ketika segala usaha tampak gagal, Allah sedang menjadikannya terang bagi bangsa-bangsa.
Selasa Pekan Suci mengajak kita jujur: dalam diri kita ada bibit Yudas dan bibit Petrus. Ada bagian yang berhitung untuk diri sendiri, ada bagian yang sesumbar melebihi kekuatan. Kabar baiknya, ayam boleh berkokok, tetapi fajar Paskah tetap akan datang bagi siapa pun yang mau menangis dan kembali.
Kalau malam ini kita jatuh, kepada siapa kita akan kembali?
Tuhan Yesus, kenallah aku melebihi aku mengenal diriku. Bila aku jatuh seperti Petrus, jangan biarkan aku tenggelam seperti Yudas. Amin.