Senin, 22 Maret 2027
Semerbak Setengah Kati
Bau harum tidak bisa disimpan untuk sendiri. Ibu yang menggoreng bawang di dapur mengharumkan seisi rumah, bahkan sampai ke rumah tetangga. Begitulah tabiat wewangian: sekali dilepaskan, ia menolak dibatasi. Ia juga tidak bisa ditarik kembali.
Enam hari sebelum Paskah, di Betania, Maria memecahkan batas kepantasan. Setengah kati minyak narwastu murni, senilai tiga ratus dinar, kira-kira upah setahun orang bekerja, dicurahkannya ke kaki Yesus. Lalu ia menyekanya dengan rambutnya sendiri. Yohanes mencatat detail yang indah: bau minyak semerbak di seluruh rumah itu.
Protes segera datang, dan dari mulut yang fasih berbicara soal orang miskin: Yudas. Mengapa tidak dijual dan uangnya diberikan kepada orang miskin? Kedengarannya saleh. Tetapi Yohanes membuka isi hatinya: ia berkata begitu bukan karena peduli, melainkan karena ia pencuri yang memegang kas. Ada orang yang menyebut angka kemanusiaan untuk menutupi hitung-hitungan pribadinya.
Di sinilah dua cara memandang bertabrakan. Bagi Yudas, minyak itu tiga ratus dinar yang menguap sia-sia. Angka memang selalu kelihatan lebih masuk akal daripada cinta. Bagi Maria, tidak ada kata sia-sia untuk Dia yang telah membangkitkan Lazarus, saudaranya. Kasih memang tidak pernah lulus ujian efisiensi. Ia selalu tampak boros di mata orang yang tidak mencintai.
Yesus membela perempuan itu: biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku. Di antara semua orang di rumah itu, tampaknya hanya Maria yang menangkap bahwa waktu hampir habis. Para murid masih sibuk dengan rencana. Maria memilih hadir sepenuhnya, mumpung Dia masih di sini.
Bacaan pertama melukiskan Hamba Tuhan yang tidak berteriak di jalan, yang tidak mematahkan buluh yang patah terkulai. Senin Pekan Suci mempertemukan dua kelembutan: Hamba yang diam-diam berjalan menuju salib, dan perempuan yang diam-diam mengurapi-Nya sebelum semua orang paham.
Kita sering menunda kasih karena menunggu saat yang pantas. Menunggu longgar, menunggu mampu, menunggu suasana baik. Betania mengingatkan: ada kasih yang kalau tidak dicurahkan sekarang, tidak akan pernah tercurah. Yesus sendiri sebentar lagi melakukan hal yang sama dalam ukuran yang tak terbayangkan: mencurahkan bukan minyak, melainkan darah-Nya, habis sampai tetes penghabisan. Maria hanya mendahului Gurunya.
Minyak apa yang masih kita simpan rapat, padahal orangnya masih ada di depan kita?
Tuhan Yesus, ajarilah aku kemurahan Maria dari Betania: mengasihi tanpa menghitung, selagi masih ada waktu. Amin.