Minggu, 21 Maret 2027
Dua Sorak
Sorak-sorai keramaian itu menular dan murah. Datanglah ke pinggir jalan saat ada arak-arakan: orang bertepuk, berteriak, melambai, kadang tanpa tahu persis apa yang sedang lewat. Dan begitu iring-iringan berlalu, kerumunan bubar, jalanan kembali seperti semula.
Hari ini kita memegang daun palma dan ikut berseru: Hosana! Kata itu sebenarnya sebuah doa, dari bahasa Ibrani yang berarti selamatkanlah kiranya. Yerusalem menyambut Yesus seperti menyambut raja. Tetapi Gereja dengan sengaja membaca kisah sengsara pada hari yang sama. Sebab kedua sorak itu memang satu paket. Hosana pada hari Minggu, salibkan Dia pada hari Jumat. Dan yang mengerikan, bisa jadi keluar dari mulut-mulut yang sama.
Apa yang mengubah sorakan itu? Kekecewaan. Mereka mengelu-elukan raja yang mereka bayangkan: pembebas politik, pengusir Roma. Yang datang ternyata raja yang membiarkan diri ditangkap, diam di hadapan penuduh, dan mati di antara dua penyamun. Ketika Yesus tidak sesuai pesanan, kerumunan berbalik.
Kisah sengsara menurut Markus penuh dengan wajah-wajah yang kita kenal. Yudas yang menjual. Petrus yang bersumpah setia lalu menyangkal sebelum ayam berkokok dua kali. Para murid yang lari. Pilatus yang tahu Yesus tak bersalah tetapi ingin memuaskan orang banyak. Kita tidak perlu jauh-jauh mencari peran kita dalam drama ini. Semua peran itu pernah kita mainkan. Markus bahkan mencatat seorang muda yang lari telanjang, meninggalkan kainnya di tangan para penangkap. Begitu paniknya orang menyelamatkan diri, martabat pun rela ditinggalkan. Kerumunan itu, sekali lagi, adalah kita.
Namun di tengah kegelapan itu, Paulus dalam suratnya kepada jemaat Filipi membukakan apa yang sesungguhnya terjadi: Ia yang setara dengan Allah mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa hamba, taat sampai mati di kayu salib. Yang tampak seperti kekalahan adalah penyerahan yang disengaja. Dan justru karena itu Allah sangat meninggikan Dia.
Satu suara jernih muncul di kaki salib, dari mulut yang tak terduga: kepala pasukan Roma. Melihat cara Yesus mati, ia berkata: sungguh, orang ini adalah Anak Allah. Iman yang benar ternyata lahir bukan di tengah sorak-sorai, melainkan di hadapan salib.
Pekan Suci dimulai hari ini. Kita boleh membawa palma pulang, tetapi pertanyaannya ikut terbawa: sorak kita yang mana yang akan bertahan sampai Jumat Agung?
Tuhan Yesus, Raja yang lembut, jangan biarkan hosanaku berubah menjadi teriakan yang menyalibkan-Mu. Ajarilah aku setia melewati pekan ini bersama-Mu. Amin.