Jumat, 19 Maret 2027
Bapa yang Tak Bersuara
Di banyak keluarga ada sosok yang sama: ayah yang irit bicara. Kasihnya tidak keluar lewat kata-kata, melainkan lewat sepeda yang diam-diam dibetulkan, lewat lauk yang tidak disentuhnya supaya cukup untuk anak-anak, lewat berangkat gelap pulang gelap. Bertahun kemudian barulah anak-anaknya paham, betapa banyak yang dikatakan lewat diamnya.
Hari ini, di tengah Prapaskah, Gereja merayakan Santo Yusuf, suami Santa Maria. Menariknya, seluruh Injil tidak menyimpan satu pun kalimat yang keluar dari mulutnya. Tidak ada kata Yusuf yang dicatat. Yang dicatat hanya perbuatannya: sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan.
Padahal beban yang ditanggungnya tidak ringan. Tunangannya mengandung, dan ia tahu anak itu bukan darinya. Injil menyebutnya orang yang tulus hati: ia tidak mau mencemarkan nama Maria di muka umum, maka ia memilih jalan paling halus yang bisa dipikirkan zaman itu, menceraikannya diam-diam. Bahkan ketika terluka, ia sibuk melindungi nama orang lain, bukan membela nama sendiri.
Lalu Allah berbicara kepadanya dalam mimpi. Jangan takut mengambil Maria sebagai isterimu. Dan Yusuf bangun, lalu taat. Tanpa bertanya, tanpa syarat, tanpa konferensi pers. Orang Jawa punya sebutan untuk watak seperti ini: sepi ing pamrih, rame ing gawe. Sunyi dari pamrih, ramai dalam kerja. Dan mimpi itu datang lagi dan lagi dalam hidupnya: menyingkir ke Mesir, kembali ke Nazaret. Setiap kali, jawabannya sama. Bangun, lalu berangkat. Ketaatannya bukan keputusan sekali jadi, melainkan kebiasaan yang dirawat bertahun-tahun.
Bacaan pertama dan kedua menempatkan Yusuf dalam barisan panjang: janji kepada Daud tentang keturunan yang takhtanya kekal, dan iman Abraham yang berharap sekalipun tidak ada dasar untuk berharap. Yusuf berdiri di ujung barisan itu. Lewat ketaatannya yang sunyi, Yesus masuk secara resmi ke dalam keluarga Daud. Janji ribuan tahun digenapi oleh seorang tukang kayu yang bersedia percaya pada mimpinya. Sejarah keselamatan ternyata juga ditopang oleh orang-orang yang namanya jarang disebut.
Dunia kita gaduh oleh orang-orang yang ingin didengar. Yusuf menawarkan jalan lain: kesetiaan yang tidak butuh panggung. Menghidupi keluarga, menjaga yang dipercayakan, mengerjakan bagian kita, dan membiarkan Allah yang menulis kisah besarnya.
Siapa di sekitar kita yang mengasihi lewat diam, dan sudahkah kita berterima kasih kepadanya?
Santo Yusuf, ajarilah aku taat tanpa banyak tanya, mengasihi tanpa banyak kata, dan bekerja tanpa mencari nama. Amin.