‹ Semua renungan

Kamis, 18 Maret 2027

Lebih Tua dari Leluhur

Di ruang tamu rumah-rumah tua biasanya tergantung foto hitam putih para leluhur. Kakek buyut, nenek buyut, wajah-wajah yang tidak sempat kita kenal. Kita memandangnya dengan hormat: mereka ada lebih dulu, kita hanya melanjutkan.

Kemarin Yesus berbicara tentang kemerdekaan anak-anak Allah. Hari ini percakapan itu memanas sampai ke puncaknya. Yesus menyebut Abraham, leluhur paling agung bangsa itu: Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku. Pendengar-Nya terpancing. Umur-Mu belum lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?

Lalu keluarlah kalimat yang membuat mereka memungut batu: sebelum Abraham jadi, Aku telah ada. Perhatikan tata bahasanya yang janggal. Bukan Aku sudah ada, melainkan Aku ada. Itu nama yang dipakai Allah sendiri ketika berbicara kepada Musa dari semak bernyala. Yesus tidak sedang mengaku lebih tua dari Abraham. Ia sedang mengaku berada di luar hitungan umur sama sekali.

Bacaan pertama mengisahkan awal perjanjian itu: Abram sujud, dan Allah mengubah namanya menjadi Abraham, bapa banyak bangsa. Perjanjian yang kekal, kata-Nya. Kekal, sebab salah satu pihaknya tidak mengenal waktu.

Iman kita ternyata bukan warisan foto tua, melainkan relasi dengan Dia yang hidup sekarang.

Sudahkah kita menyapa-Nya hari ini sebagai yang hadir, bukan sekadar tokoh masa lampau?

Tuhan Yesus, Engkau ada sebelum segala sesuatu. Hadirlah dalam hari-hariku yang serba sementara ini. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →