Rabu, 17 Maret 2027
Pintu Sangkar Terbuka
Burung yang lama dipelihara kadang tidak mau pergi meski pintu sangkarnya dibuka. Ia sudah nyaman. Makan tersedia, aman dari kucing. Ia bebas keluar, tetapi tidak lagi ingin. Sangkarnya sudah pindah ke dalam kepalanya.
Kemarin kita mendengar banyak orang menjadi percaya kepada Yesus. Kepada merekalah Yesus hari ini berkata: kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu. Jawaban mereka cepat dan tersinggung: kami keturunan Abraham, tidak pernah menjadi hamba siapa pun. Padahal mereka sedang dijajah Roma. Begitulah, perbudakan yang paling awet memang yang tidak terasa.
Kata merdeka yang kita pakai sehari-hari berasal dari bahasa Sanskerta, maharddhika, sebutan untuk orang yang bebas dari status hamba. Yesus menunjuk perhambaan yang lebih dalam dari urusan politik: setiap orang yang berbuat dosa adalah hamba dosa. Bisa saja orang tidur di rumah sendiri tetapi hatinya diperbudak dendam, gengsi, atau kebiasaan yang tak putus.
Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dalam bacaan pertama justru sebaliknya. Tubuh mereka diikat dan dicampakkan ke perapian, tetapi merekalah orang paling merdeka di Babel: raja pun tak sanggup memaksa mereka menyembah patung. Dan di tengah api, mereka berjalan-jalan dengan bebas.
Pintu sangkar kita sudah dibuka di kayu salib. Beranikah kita terbang?
Tuhan, tunjukkanlah kepadaku rantai yang tidak lagi kurasakan, dan merdekakanlah aku dengan kebenaran-Mu. Amin.