Minggu, 14 Maret 2027
Hilang di Dalam Tanah
Setiap petani tahu satu rahasia yang jarang dipikirkan orang kota: benih yang disimpan rapi di lumbung tidak akan pernah menjadi apa-apa. Ia aman, utuh, kering. Dan mandul. Supaya berbuah, benih itu harus dilepaskan dari genggaman, dijatuhkan ke tanah, tertimbun, hancur bentuknya. Dari luar tampak seperti kehilangan. Padahal itulah awal panen.
Beberapa orang Yunani ingin bertemu Yesus. Permintaan yang wajar, hampir seperti permintaan wisatawan. Tetapi jawaban Yesus melompat jauh: telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan. Lalu keluarlah kalimat tentang biji gandum itu. Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja. Tetapi jika ia mati, ia menghasilkan banyak buah.
Dimuliakan, dalam kamus Yesus, ternyata bukan naik panggung. Dimuliakan berarti jatuh ke tanah. Dunia mengukur kemuliaan dari seberapa tinggi orang naik. Yesus mengukurnya dari seberapa dalam orang berani ditanam.
Orang-orang Yunani itu mungkin tidak menyangka jawaban semacam ini. Mereka ingin melihat tokoh yang sedang dibicarakan banyak orang. Yesus justru menunjukkan jalan menjadi benih. Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku, kata-Nya. Melihat saja tidak cukup. Mengikuti berarti bersedia ikut jatuh, ikut ditanam, ikut berbuah.
Surat Ibrani membuka sisi manusiawi-Nya: Ia berdoa dengan ratap tangis dan keluhan. Injil pun jujur mencatat: sekarang jiwa-Ku terharu. Yesus tidak pura-pura tenang. Ia gentar, seperti kita. Tetapi Ia tidak lari. Untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini, kata-Nya.
Di sinilah bacaan pertama bersinar. Yeremia menubuatkan perjanjian baru: bukan hukum di loh batu, melainkan hukum yang ditulis dalam hati. Perjanjian macam itu tidak bisa dibuat dengan tinta. Ia hanya bisa ditulis dengan hidup yang diserahkan. Biji gandum yang jatuh itu menjadi pena-Nya.
Dan kita? Barangsiapa mencintai nyawanya akan kehilangan nyawanya. Kalimat ini bukan ajakan membenci hidup, melainkan peringatan tentang genggaman. Hidup yang digenggam terlalu erat justru membusuk dalam genggaman: bakat yang disimpan karena takut gagal, harta yang ditimbun karena takut kurang, hati yang dikunci karena takut terluka. Tetap satu biji saja.
Dua minggu menjelang Paskah, baiklah kita bertanya: apa yang selama ini kita genggam erat-erat, padahal justru menunggu untuk ditanam?
Tuhan Yesus, Engkau biji gandum yang jatuh bagi kami. Lepaskanlah genggamanku, dan tanamlah aku di mana Engkau mau, supaya hidupku berbuah. Amin.