Rabu, 10 Maret 2027
Allah Tidak Libur
Kemarin kita melihat Yesus menyembuhkan orang lumpuh di Betesda, dan gara-gara itu Ia dimusuhi, sebab hari itu hari Sabat. Hari ini Ia menjawab para penuduh-Nya dengan satu kalimat yang mengguncang: Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.
Coba pikirkan sejenak. Jantung kita berdetak juga pada hari Minggu. Matahari terbit juga pada hari raya. Bayi lahir tengah malam, padi tumbuh saat petaninya tidur. Kalau Allah sungguh berhenti bekerja satu hari saja, semesta ini bubar. Ia beristirahat pada hari ketujuh, kata Kitab Kejadian, tetapi istirahat-Nya bukan meninggalkan ciptaan. Kasih tidak mengenal jam kerja.
Yesaya melukiskannya dengan gambar yang paling manusiawi: dapatkah seorang ibu melupakan bayinya? Sekalipun ia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. Seorang ibu tidak pernah cuti menjadi ibu. Begitulah Allah, hanya lebih lagi.
Orang Yahudi marah karena Yesus menyamakan diri dengan Allah. Padahal justru itu kabar baiknya: dalam Yesus, Allah yang tak pernah berhenti bekerja itu turun tangan langsung, membangkitkan dan menghidupkan.
Kalau Dia tidak pernah libur mengasihi kita, pantaskah kita mengambil libur dari mengasihi sesama?
Bapa, Engkau bekerja sampai sekarang untuk hidupku. Jangan biarkan kasihku mengenal hari libur. Amin.