Minggu, 7 Maret 2027
Lampu Teras
Di banyak kampung ada kebiasaan sederhana: lampu teras dibiarkan menyala semalaman. Bukan untuk penghuni rumah, sebab mereka sudah tidur. Lampu itu untuk orang yang lewat. Untuk yang pulang larut. Supaya jalan tidak sepenuhnya gelap, dan siapa pun yang tersesat bisa menemukan pintu.
Minggu lalu kita melihat Yesus marah di Bait Allah, mengusir para pedagang dengan cambuk. Hari ini nadanya berubah sama sekali. Dalam percakapan malam dengan Nikodemus, keluar kalimat yang mungkin paling banyak dihafal orang sedunia: karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.
Perhatikan kata berikutnya. Allah mengutus Anak-Nya bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya. Terang itu dinyalakan bukan untuk menelanjangi orang yang berjalan di gelap. Ia dinyalakan supaya mereka menemukan jalan pulang.
Gereja menamai hari ini Minggu Laetare, artinya bersukacitalah. Di tengah puasa, kita diberi jeda untuk bergembira. Alasannya dibentangkan Paulus kepada jemaat Efesus: kamu diselamatkan oleh kasih karunia, bukan hasil usahamu. Bacaan pertama menunjukkan polanya. Umat berkhianat berulang-ulang, dibuang ke Babel, lalu dipulangkan lewat tangan Koresh, raja asing yang bahkan tidak mengenal Tuhan. Keselamatan selalu datang dari pihak Allah lebih dulu.
Yesus sendiri memakai gambar dari padang gurun: sama seperti Musa meninggikan ular tembaga supaya yang memandangnya hidup, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan. Salib adalah lampu teras yang dipasang Allah di tengah malam dunia. Ia tidak dinyalakan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk ditatap oleh siapa saja yang terluka di jalan.
Kalau begitu, mengapa masih ada yang binasa? Yohanes menjawab dengan getir: terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan. Lampu teras sudah menyala. Persoalannya tinggal satu: ada orang yang memilih tetap berjalan menjauh, sebab di dekat lampu, segala yang disembunyikan menjadi kelihatan.
Prapaskah sering kita jalani seperti orang menghadap hakim: menunduk, takut, menghitung kesalahan. Minggu Laetare meluruskan itu. Kita sedang berjalan pulang menuju rumah yang lampunya sengaja dinyalakan untuk kita. Yang menunggu di dalam bukan hakim dengan palu, melainkan Bapa yang sudah lama berdiri di dekat pintu.
Puasa yang lahir dari takut cepat lelah. Puasa yang lahir dari rasa dikasihi bisa berjalan jauh.
Masihkah ada bagian hidup yang kita sembunyikan dari terang itu?
Bapa, begitu besar kasih-Mu kepadaku. Tariklah aku keluar dari gelap yang kusukai, menuju terang yang menyelamatkan. Amin.