‹ Semua renungan

Sabtu, 6 Maret 2027

Kabut Jam Tujuh

Kabut pagi di lembah kelihatan gagah. Tebal, putih, menutup segala. Tetapi tunggu saja sampai jam tujuh. Begitu matahari naik sedikit, kabut itu hilang tanpa bekas. Yang tampak hebat belum tentu tahan lama.

Kasih setiamu seperti kabut pagi, kata Tuhan lewat Hosea. Sebuah sindiran yang halus dan telak. Umat itu rajin beribadah, rajin berkorban, tetapi kesetiaannya menguap secepat embun pagi. Maka Tuhan menegaskan: Aku menyukai kasih setia, bukan korban sembelihan.

Injil memberi kita dua potret di Bait Allah. Orang Farisi berdiri dan berdoa, tetapi isinya laporan prestasi: aku berpuasa, aku memberi persepuluhan, aku tidak seperti orang lain. Doa yang tidak membutuhkan Allah, hanya membutuhkan pendengar. Allah nyaris tidak diberi peran di dalamnya.

Pemungut cukai berdiri jauh-jauh. Doanya pendek sekali: ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Tidak ada daftar jasa. Hanya dada yang dipukul. Dan justru ia yang pulang dibenarkan.

Prapaskah hampir separuh jalan. Puasa dan pantang kita bisa menjadi persembahan, bisa juga menjadi piala untuk dipamerkan. Bedanya tipis, dan hanya hati yang tahu.

Doa kita selama ini lebih mirip yang mana?

Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Jangan biarkan kesetiaanku menguap seperti kabut pagi. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →